INDORAYATODAY.COM — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian memuncak menyusul pernyataan tegas dari otoritas Republik Islam Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa pihaknya tidak akan menyetujui gencatan senjata apa pun hingga pihak-pihak yang melakukan serangan terhadap Teheran mendapatkan pelajaran setimpal.

Melalui unggahan di media sosial X pada Selasa (10/3/2026), Ghalibaf menekankan bahwa Iran tidak ingin terjebak dalam siklus konflik yang berulang tanpa penyelesaian yang memberikan efek jera kepada pihak agresor.

“Kami secara tegas tidak mencari gencatan senjata. Kami yakin bahwa agresor harus ‘ditampar’ agar ia belajar dari kesalahannya dan tidak pernah lagi memikirkan agresi terhadap Iran tercinta,” tulis Ghalibaf sebagaimana dikutip dari kantor berita Antara.

Iran, menurut Ghalibaf, bertekad kuat untuk memutus rantai pola “perang-negosiasi-gencatan senjata” yang selama ini dinilai tidak memberikan kepastian keamanan jangka panjang. Sikap keras ini diambil sebagai respons atas serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu.

Serangan udara tersebut menghantam sejumlah target vital di Iran, termasuk wilayah ibu kota Teheran. Insiden itu dilaporkan mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang signifikan serta jatuhnya korban dari kalangan sipil.

Eskalasi kian meruncing setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada hari pertama operasi militer tersebut. Saat ini, Iran masih berada dalam masa berkabung nasional selama 40 hari untuk menghormati sang pemimpin spiritual.

Pihak AS dan Israel semula mengeklaim bahwa serangan tersebut bersifat “preemptif” guna meredam ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangannya, muncul indikasi kuat bahwa operasi militer tersebut juga memiliki motif politik untuk mendorong perubahan kepemimpinan di Teheran.

BACA JUGA:  Sushila Karki Jadi Perdana Menteri Nepal, Dipilih Gen Z Lewat Aplikasi Daring

Sebagai balasan, Iran telah melancarkan serangan rudal ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah. Balas-membalas serangan ini dikhawatirkan oleh komunitas internasional akan memicu konflik terbuka yang lebih luas jika upaya diplomasi tetap menemui jalan buntu.

Hingga kini, dunia internasional terus memantau perkembangan di Teheran, sembari menyerukan agar semua pihak menahan diri demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa di kalangan masyarakat sipil.