INDORAYATODAY.COM – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, meluapkan kekecewaannya setelah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan sejumlah sekutu utama menolak seruannya untuk membantu pengamanan di Selat Hormuz. Jalur perairan strategis tersebut merupakan urat nadi energi global yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia setiap harinya.

Trump menilai penolakan tersebut sebagai bentuk ketidakadilan, mengingat AS telah memberikan dukungan militer dan finansial yang masif kepada sekutu-sekutunya, baik di Eropa maupun Asia.

“Meskipun kita telah banyak membantu, mereka tidak melakukan apa pun untuk kita, terutama di saat kita membutuhkan,” ujar Trump melalui akun media sosialnya, sebagaimana dikutip Associated Press, Rabu (18/3/2026).

Sentimen Beban Pertahanan Dalam pernyataannya, Trump menyinggung ketergantungan sekutu NATO terhadap dukungan AS yang mencapai puluhan miliar dolar untuk membantu Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia. Ia merasa geram karena pengabdian AS tersebut tidak dibalas dengan dukungan serupa saat Washington dan Israel berupaya melemahkan kekuatan militer Iran.

Trump menegaskan bahwa langkah untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir seharusnya menjadi kepentingan bersama seluruh anggota sekutu, bukan hanya beban AS semata. Ia mengklaim AS telah menghabiskan ratusan miliar dolar untuk memperkuat benteng pertahanan global, namun merasa ditinggalkan dalam misi di Timur Tengah.

Penolakan Tegas Uni Eropa Di sisi lain, Uni Eropa memberikan respons dingin terhadap tuntutan Washington. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, secara tegas menyatakan bahwa blok 27 negara tersebut tidak memiliki keinginan untuk terseret ke dalam pusaran konflik bersenjata antara AS-Israel melawan Iran.

Kallas menekankan bahwa pengiriman kapal perang ke Selat Hormuz bukanlah prioritas keamanan Eropa saat ini. Keputusan ini diambil setelah melalui pembicaraan intensif di antara negara-negara anggota Uni Eropa.

BACA JUGA:  Ya Allah, Bus Jamaah Umrah Kecelakaan Maut, 45 Korban Tewas

“Ini bukan perang Eropa. Kami tidak memulai perang ini, dan kami pun tidak dimintai pendapat sebelumnya,” tegas Kallas, Selasa (17/3/2026).

Penolakan ini menandai babak baru ketegangan diplomatik di internal aliansi Barat. Sikap keras kepala dari kedua belah pihak dikhawatirkan akan merenggangkan soliditas NATO di tengah eskalasi geopolitik yang kian memanas di berbagai belahan dunia.