INDORAYATODAY.COM — Otoritas Iran mulai menerapkan pengawasan ketat dan blokade selektif di Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Jalur perairan paling vital bagi pasokan energi dunia tersebut kini dilaporkan hanya dapat dilalui oleh kapal-kapal dari negara yang mengantongi izin khusus dari Teheran.
Langkah ini diambil setelah penutupan jalur secara terbatas yang berlangsung sejak akhir Februari lalu. Berdasarkan laporan intelijen maritim Windward, rute transit di perairan Iran kini berkembang menjadi jalur eksklusif bagi negara-negara yang dianggap sebagai sekutu atau pendukung posisi Iran dalam konflik saat ini.
“Rute baru ini menggambarkan bagaimana blokade selektif Iran telah berkembang untuk memungkinkan sekutu dan pendukungnya melakukan transit,” demikian bunyi laporan analisis Windward, Kamis (19/3/2026).
Daftar Negara yang Mendapat Akses Melansir laporan Aljazeera, sejumlah negara tercatat telah mendapatkan izin khusus untuk melintasi jalur yang biasanya menyalurkan seperlima pasokan minyak dan gas dunia tersebut:
Pakistan: Kapal tanker jenis Aframax bernama Karachi yang berbendera Pakistan dilaporkan berhasil melintasi selat melalui koridor yang diizinkan otoritas Iran.
India: Teheran memberikan izin kepada sedikitnya dua kapal tanker pengangkut Liquefied Petroleum Gas (LPG) asal India setelah adanya komunikasi diplomatik intensif antara kedua negara.
Turki: Kapal milik Turki juga mendapatkan akses setelah memperoleh persetujuan langsung dari Teheran saat berada di posisi dekat perairan Iran.
Negosiasi China dan Eropa Sementara itu, sejumlah negara besar lainnya masih berada dalam tahap negosiasi untuk mengamankan pasokan energi mereka. China, yang sangat bergantung pada pasokan minyak melalui Hormuz, dilaporkan tengah melakukan pembicaraan mendalam dengan Iran untuk memastikan keamanan armada pengangkut mereka.
Di sisi lain, negara-negara Eropa seperti Prancis dan Italia juga telah mengajukan permintaan akses serupa. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian resmi apakah kapal-kapal dari blok Eropa tersebut telah diizinkan melintas, mengingat ketegangan diplomatik yang masih dinamis.
Instrumen Tekanan Global Kebijakan Iran untuk menutup Selat Hormuz bagi negara-negara yang berafiliasi dengan Washington dinilai para analis sebagai bentuk kontrol strategis atas urat nadi ekonomi dunia. Langkah ini tidak hanya berdampak pada perdagangan global, tetapi juga menjadi alat tekan politik yang signifikan dalam kancah internasional.
Pemerintah Iran sebelumnya menegaskan bahwa jalur tersebut akan tetap terbuka secara terbatas bagi pihak-pihak yang tidak mendukung agresi militer AS dan Israel di kawasan. Situasi ini memaksa banyak negara untuk meninjau kembali posisi diplomatik mereka guna mengamankan ketahanan energi nasional masing-masing.

Tinggalkan Balasan