INDORAYATODAY.COM – Mahasiswi Institut Teknologi Bandung (ITB) berinisial SSS akhirnya dibebaskan dari tahanan Bareskrim Polri pada Minggu (11/5/2025), setelah sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan sejak Selasa (6/5).

SSS, yang merupakan mahasiswi jurusan Seni Rupa ITB, ditangkap di tempat kosnya di kawasan Jatinangor dan ditahan karena menggunggah gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan sosok mirip Presiden Joko Widodo dan Presiden terpilih Prabowo Subianto sedang berciuman.

Aksi ini menuai kontroversi luas di media sosial dan memicu perdebatan soal batasan kebebasan berekspresi.

Namun, pembebasan SSS dilakukan setelah adanya surat jaminan dari Ketua Komisi III DPR RI, Habiburohman. Berdasarkan informasi yang berkembang, langkah pembebasan ini merupakan arahan langsung dari Presiden terpilih Prabowo Subianto.

“Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menjalankan pemerintahannya secara demokratis,” ujar Aktivis 98 ITB, Khalid Zabidi dalam keterangan tertulis.

Khalid menyebut langkah Presiden Prabowo layak diapresiasi karena menunjukkan sikap bijak dalam menyikapi kebebasan berpendapat.

“Saya mendapat info bahwa Presiden Prabowo meminta agar mahasiswi ITB dilakukan tahanan luar agar tetap menjamin iklim demokrasi tetap terjaga. Ini layak diacungkan jempol,” tambahnya.

Ia juga menyebut arahan dari Presiden Prabowo ditindaklanjuti langsung oleh Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dan Ketua Komisi III DPR RI Habiburohman.

“Langkah upaya penjaminan terhadap mahasiswi ITB untuk tahanan luar dan untuk mendapatkan perlakuan hukum, yang tetap menjaga prinsip demokrasi merupakan upaya dari Prof Sufmi Dasco Ahmad dan Habiburohman,” jelasnya.

Sebelumnya, penahanan terhadap SSS menuai kritik tajam dari berbagai pihak, termasuk kalangan aktivis mahasiswa. Presiden Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, Ferrel Faiz, menilai penahanan tersebut sebagai bentuk pembungkaman terhadap suara kritis.

BACA JUGA:  Prabowo Minta Menteri Rapatkan Barisan, Sinyal Reshuffle Menguat? Ini Kata Pengamat

“Kami sangat menyayangkan hal tersebut, bahwasanya membungkam satu suara kritis adalah ancaman bagi kebebasan seluruh rakyat. Hari ini satu dari kami ditindas, maka seluruh Keluarga Mahasiswa ITB bersuara. Patah tumbuh hilang berganti, gugur satu tumbuh seribu,” ujar Faiz.

Sementara itu, Menteri Koperasi RI Budie Arie mengkritik keras unggahan yang dibuat oleh SSS, menyebutnya sebagai tindakan tidak etis dan bentuk penghinaan terhadap kepala negara.

“Tindakan mengunggah foto yang melecehkan pemimpin negara sangat tidak dibenarkan. Tidak bisa ditoleransi. Apalagi, itu foto montage, editing, yang artinya tidak faktual. Itu hoaks untuk menghina atau melecehkan orang lain atau kepala negara sebagai pribadi sekaligus jabatan atau lembaganya,” kata Budie kepada wartawan, Sabtu (10/5).

Pernyataan Budie Arie pun turut menuai reaksi negatif dari warganet yang menilai pernyataannya tidak relevan dengan kapasitasnya sebagai Menteri Koperasi.

Kasus ini memicu diskursus luas soal batasan antara kebebasan berekspresi dan penghinaan terhadap simbol negara, serta menjadi ujian awal bagi kepemimpinan Prabowo Subianto dalam merespons kritik di era digital.