INDORAYATODAY.COM – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta memperketat pengawasan terhadap penumpang internasional guna mencegah masuknya hantavirus ke Indonesia.
Pengawasan ini diprioritaskan bagi pelaku perjalanan dari negara-negara yang telah melaporkan kasus, seperti Amerika Serikat, Argentina, Paraguay, dan Panama.
Kepala BBKK Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, menjelaskan bahwa langkah kesiapsiagaan dilakukan melalui pengisian deklarasi kesehatan, pemantauan suhu tubuh dengan thermal scanner, serta observasi visual terhadap penumpang yang baru tiba.
“Dari deklarasi kesehatan, kami bisa mengetahui risiko dari penerbangan maupun pelaku perjalanan. Jika ditemukan gejala yang mengarah ke hantavirus, petugas akan melakukan pemeriksaan lanjutan,” ujar Naning, Senin (11/5).
Sebagai langkah mitigasi, pihak bandara telah menyiapkan jalur evakuasi khusus untuk penyakit menular guna mencegah penularan kepada penumpang lain. BBKK juga menyiagakan ambulans dengan sistem dekontaminasi untuk merujuk pasien kategori probable ke Rumah Sakit Pusat Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso.
Naning menambahkan bahwa masa inkubasi hantavirus tergolong panjang, sehingga masa observasi terhadap pasien maupun kontak erat bisa berlangsung hingga 42 hari.
Meskipun pengawasan diperketat, Naning menegaskan bahwa pola penularan hantavirus berbeda dengan Covid-19. Jika Covid-19 menular antarmanusia, hantavirus di Indonesia umumnya ditularkan melalui kontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus.
“Dari 51 jenis tikus, ada 24 jenis yang berpotensi menyebabkan penyakit. Kami mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan mewaspadai keberadaan tikus di lingkungan sekitar,” tambahnya.
Berdasarkan data BBKK, tercatat ada 23 kasus hantavirus yang teridentifikasi di Indonesia sepanjang periode 2024 hingga 2026. Hingga saat ini, pihak karantina belum menemukan adanya kasus aktif yang masuk melalui pintu Bandara Soekarno-Hatta.

Tinggalkan Balasan