DEPOK, INDORAYA TODAY – Ketua Tim Penggerak PKK Kota Depok, Siti Barkah Hasanah atau akrab disapa Cing Ikah, menekankan pentingnya melestarikan tradisi lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas dan kebersamaan masyarakat.

Hal itu ia sampaikan dalam acara Potong Kebo Andil yang menjadi rangkaian kegiatan Lebaran Depok 2025 di Alun-Alun Timur, Grand Depok City (GDC), Kamis (15/5/2025).

Menurut Cing Ikah, tradisi Kebo Andil yang diwarisi dari masyarakat Depok zaman dulu merepresentasikan nilai gotong royong yang kuat. Dalam praktiknya, warga bersama-sama mengumpulkan dana untuk membeli seekor kerbau yang akan dipotong menjelang Hari Raya Idul Fitri.

“Misalnya harga satu kebo Rp25 juta. Lalu dicari 25 orang untuk patungan Rp1 juta per orang. Selama sebulan mereka nyicil Rp100 ribu. Saat Lebaran tiba, kebo dipotong dan hasilnya dinikmati bersama,” jelas Cing Ikah.

Ia menambahkan, filosofi dari tradisi ini adalah semangat kebersamaan dan keinginan orang tua zaman dulu untuk membahagiakan anak-anaknya yang telah berpuasa penuh selama satu bulan dengan menyajikan daging di hari raya. “Inilah bentuk cinta keluarga dan guyubnya masyarakat Depok yang ingin kami hidupkan kembali,” ujarnya.

Lebih lanjut, Cing Ikah mengatakan, seluruh masyarakat Depok dapat menjadi penerima manfaat daging dari Kebo Andil. Panitia telah menyiapkan dapur umum untuk langsung mengolah daging tersebut dan menyajikannya bagi warga yang hadir. “Ini adalah Lebaran semua warga Depok. Semua bisa menikmati,” katanya.

Kemeriahan acara juga diramaikan oleh lomba mewarnai yang diikuti anak-anak dari tingkat PAUD hingga SD. Cing Ikah mengaku terharu melihat antusiasme para peserta. “Anak-anak menggambar tentang Kota Depok dengan sangat luar biasa. Saat saya tanya, mereka tahu dan paham tentang kotanya. Ini menjadi edukasi penting untuk menumbuhkan rasa cinta mereka terhadap daerah asal,” tuturnya.

BACA JUGA:  Jenal Mutaqin Belanja Masalah di Kantor Dishub, Soroti Tantangan Kemacetan Kota Bogor

Cing Ikah berharap, di tengah maraknya budaya luar yang digemari generasi muda, seperti tren Korea dan Jepang, anak-anak Depok tetap mencintai dan melestarikan budaya lokal. “Boleh suka Korea, boleh suka Jepang. Tapi budaya sendiri jangan sampai hilang. Itu misi KOOD melalui kegiatan seperti ini,” pungkasnya. (M. Taufik)