INDORAYATODAY.COM — Masyarakat diimbau waspada terhadap Penyakit Radang Usus Kronis atau Inflammatory Bowel Disease (IBD). Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Eka Hospital MT Haryono, Prof Dr dr Murdani Abdullah, Sp.PD-KGEH, menjelaskan bahwa IBD sering kali keliru disamakan dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS).

Padahal, IBS hanya gangguan fungsi lambung-usus tanpa luka, sementara IBD merupakan penyakit serius yang menyebabkan kerusakan fisik hingga perdarahan pada usus.

Secara medis, IBD dibagi menjadi dua jenis: Kolitis Ulseratif yang memicu luka dan perdarahan merata di usus besar, serta Penyakit Crohn yang bisa menyerang seluruh lapisan dinding saluran pencernaan mulai dari mulut hingga anus.

Gejala utama IBD meliputi diare kronis lebih dari dua minggu yang disertai darah atau lendir, kram perut intens setelah makan, penurunan berat badan drastis, mudah lelah, dan demam ringan. Penyakit ini dipicu oleh gangguan sistem imun (autoimun) yang menyerang sel sehat di saluran pencernaan.

Faktor risikonya meliputi faktor genetika, usia muda (15-30 tahun), gaya hidup buruk (merokok dan stres), serta konsumsi obat pereda nyeri golongan NSAID yang terlalu sering karena dapat mengikis lapisan usus.

Jika diabaikan, IBD dapat memicu komplikasi fatal seperti penyumbatan usus, kebocoran dinding usus (perforasi), terbentuknya saluran abnormal (fistula), hingga peningkatan risiko kanker usus besar.

Meski belum bisa sembuh total, peradangan IBD dapat dikontrol hingga mencapai fase bebas gejala (remisi). Penanganan medisnya meliputi terapi obat antiradang atau imunosupresan, pengaturan pola makan ketat, serta tindakan bedah sebagai langkah terakhir. Pemeriksaan dini melalui kolonoskopi sangat krusial untuk mencegah kerusakan usus permanen.

BACA JUGA:  Catat, Ini Rekomendasi 6 Kafe Nyaman di Bojongsari Depok