INDORAYATODAY.COM – Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali membara menyusul konflik militer terbuka antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam beberapa hari terakhir.

Ketegangan semakin meningkat setelah Israel menyatakan kesiapannya untuk membantu AS melakukan serangan ke wilayah Republik Islam tersebut.

Eskalasi bersenjata ini pecah setelah nota kesepahaman gencatan senjata yang sempat disepakati pada pertengahan Juni 2026 lalu, dinyatakan berakhir oleh Presiden AS Donald Trump.

Pascapeluncuran serangan udara terbaru oleh Washington ke wilayah Iran, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) langsung meningkatkan status kesiagaan militer mereka ke tingkat tertinggi. Langkah ini mencakup kesiapan sistem pertahanan udara serta penyusunan skenario operasi serangan potensial.

Pemerintah Israel mengkhawatirkan konfrontasi langsung antara Washington dan Teheran dapat berkembang dengan cepat, sehingga menyeret Yerusalem ke dalam konflik terbuka di kawasan.

Berdasarkan laporan media lokal Channel 12, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz telah menggelar rapat konsultasi keamanan darurat pada Rabu (8/7/2026) malam, sesaat setelah Washington dan Teheran terlibat aksi saling serang.

Sebagai langkah antisipasi, IDF telah menyiagakan armada pesawat tempur, memperbarui daftar target potensial berdasarkan data intelijen terbaru, serta mematangkan rencana operasi militer.

Israel juga mengintensifkan koordinasi dengan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) guna mengantisipasi serangan balasan dari Teheran yang mengarah ke wilayah Israel maupun sekutu AS lainnya.

Di sisi lain, AS dilaporkan kembali mengerahkan armada pesawat pengisi bahan bakar (tanker) ke Timur Tengah. Kehadiran kembali pesawat tanker yang sempat ditarik pada April 2026 ini memicu kekhawatiran bahwa Washington sedang mempersiapkan diri menghadapi konflik berkepanjangan.

Merespons gempuran tersebut, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) langsung melancarkan aksi balasan. Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRGC mengklaim telah menembakkan puluhan rudal dan pesawat tanpa awak (drone) ke sejumlah pangkalan militer AS yang berada di Bahrain dan Kuwait.

BACA JUGA:  Indonesia Siap Dukung Peningkatan Kapasitas Diplomat dan Jajaki Kerja Sama Militer-Maritim