INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Jalur pelayaran strategis Selat Hormuz masih belum menunjukkan aktivitas normal pada Senin (15/6/2026), meski Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengumumkan kesepakatan damai untuk mengakhiri konflik yang berlangsung hampir empat bulan. Ratusan kapal komersial dilaporkan masih tertahan di kawasan tersebut, sementara lalu lintas pelayaran belum kembali pulih.
Data platform pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan aktivitas di Selat Hormuz masih sangat terbatas. Hingga Senin pagi, hanya sebuah kapal patroli yang terpantau bergerak di jalur pelayaran tersebut, sedangkan armada komersial lainnya masih menunggu kepastian situasi keamanan.
Pemerintah AS dan Iran sebelumnya mengonfirmasi rencana penghentian permusuhan yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026. Pengumuman itu disampaikan pada Senin pagi sebagaimana dilaporkan South China Morning Post.
Tidak lama setelah pengumuman tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan Selat Hormuz akan dibuka kembali sepenuhnya setelah penandatanganan resmi perjanjian damai yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (19/6/2026).
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai pemulihan operasional di salah satu jalur perdagangan paling penting di dunia itu tidak akan berlangsung cepat. Sebelum konflik pecah, Selat Hormuz menjadi jalur transit sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.
Analis minyak mentah senior firma intelijen perdagangan Kpler, Xu Muyu, menilai masih banyak ketidakjelasan dalam implementasi kesepakatan damai tersebut.
“Ada banyak aspek yang masih belum jelas seputar perjanjian ini, dan kesepakatan itu sendiri tampaknya agak rapuh,” kata Xu.
Menurut dia, berbagai potensi gangguan masih dapat muncul sebelum proses penandatanganan resmi dilakukan pada akhir pekan ini.
Xu juga menyoroti sejumlah pertanyaan yang belum terjawab, termasuk kemungkinan pencabutan blokade ekonomi terhadap Iran dan pencairan aset-aset negara tersebut yang selama ini dibekukan.
“Bahkan jika selat itu dibuka kembali, belum jelas apakah kapal-kapal akan dapat transit melalui jalur IMO seperti biasa, atau apakah pemilik kapal akan tetap khawatir tentang potensi ranjau atau risiko keamanan lainnya di jalur air tersebut,” ujarnya.
Kpler mencatat sebanyak 562 kapal masih tertahan di Teluk Persia hingga Senin pagi. Dari jumlah tersebut, 292 kapal berada dalam kondisi membawa muatan penuh.
Aktivitas pelayaran di titik sempit (chokepoint) yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia itu praktis terhenti sejak dimulainya operasi militer gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Konflik tersebut sebelumnya memicu lonjakan harga berbagai komoditas global, terutama minyak mentah. Meski kesepakatan damai kini telah diumumkan, proses normalisasi diperkirakan membutuhkan waktu panjang.
Badan Energi Internasional (IEA) bahkan sebelumnya memperingatkan bahwa pemulihan penuh dan pembukaan kembali Selat Hormuz dapat memakan waktu sekitar enam hingga delapan bulan setelah perang berakhir. ***

Tinggalkan Balasan