DEPOK, INDORAYA TODAY – Lurah Cilangkap, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Galih Catur Prasetya, mengungkap modus pembuang sampah sembarangan usai menemukan bungkus paket yang masih menyisakan identitas dan alamat warga di lokasi pembuangan liar.

Temuan itu didapat setelah dirinya bersama warga kembali membersihkan tumpukan sampah di jalan alternatif perbatasan Kelurahan Cilangkap dan Kelurahan Tapos.

Video Galih saat memunguti sampah sebelumnya viral di berbagai platform media sosial.

Galih mengaku tidak menyangka video tersebut menjadi perhatian publik.

“Saya enggak nyangka videonya bakal viral. Saya cuma geram karena tempat ini sudah berkali-kali dibersihkan, tapi besoknya ada lagi, ada lagi,” kata Galih, Rabu (8/7/2026).

Menurutnya, lokasi tersebut sedikitnya sudah lima kali dibersihkan.

Pada pembersihan sebelumnya, petugas bahkan mengangkut sekitar dua mobil pikap sampah.

Namun, hanya berselang sepekan, tumpukan sampah kembali muncul.

Isi sampah yang ditemukan pun beragam. Mulai dari sampah dapur, sisa makanan, hingga satu karung penuh popok bayi bekas.

Yang mengejutkan, petugas juga menemukan bungkus paket berwana hitam yang masih menyimpan alamat penerima.

“Nah, tadi ada plastik bekas bungkusan paket. Pas kita lihat, alamatnya masih ada. Nanti akan saya sampaikan ke RT yang bersangkutan supaya diteruskan kepada warganya sesuai alamat di paket itu,” ujar Galih.

Untuk mencegah kejadian serupa terulang, Galih mengaku sudah berkoordinasi dengan pihak Kelurahan Tapos.

Kedua wilayah berencana memasang portal di akses jalan yang kerap dijadikan lokasi pembuangan sampah.

Portal nantinya akan diberlakukan pada jam tertentu berdasarkan kesepakatan kedua kelurahan.

“Kita sudah komunikasi dengan Lurah Tapos dan RW setempat. Nanti portal diberlakukan dengan jam yang sama supaya efektif,” ucapnya.

Galih juga mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengangkutnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

BACA JUGA:  Dandim Depok: HUT ke-26 Kota Depok Jadi Momentum Kedewasaan Masyarakat

Menurutnya, kondisi TPA Cipayung sudah semakin terbebani.

“Kalau polanya cuma dipindahkan ke TPA, seluas apa pun enggak akan cukup. Bantar Gebang saja overload, apalagi TPA Cipayung,” katanya.

Dia mengajak warga mulai mengubah kebiasaan mengelola sampah dari rumah.

Menurut Galih, sampah seharusnya dipilah antara organik dan anorganik agar sebagian masih bisa diolah maupun memiliki nilai ekonomi.

“Jangan hanya buang pada tempatnya. Sampah harus dipilah. Yang masih punya nilai ekonomis bisa dimanfaatkan lagi,” tuntasnya. (Ihsan)