Surakarta, Dunia akademik dan seni tari, berjalan beriringan ketika dilakukan dengan passion yang kuat dilakukan dengan kesungguhan hati.

Umi Khulsum Ph.D, seorang doktor akuntansi ulusan Malaysia membuktikan bahwa diantara penjelajahannya ilmu Pasti masih memerlukan keselarasan hati ketika melakoni seni tari. Ia baru saja tampil membawakan Tari Gunung Sari gaya Surakarta di panggung Gelaran Pasar Rakyat dan Budaya (Pasar Raya) ke-3 Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) 2026.

Umi Khulsum Ph.D memulai tarian dengan melangkah dan melakukan olah gaya tari yang melambangkan kepercayaan diri yang menggambarkan karakter ksatria halus bernama Raden Gunung Sari. Tarian ini menonjolkan gerak putra halus dan bersemangat yang tenang, jujur dan bijaksana. Unsur utamanya mencakup ragam gerak kepala, tangan, tubuh, dan kaki seperti lembehan, bapangan, golengan, serta kencak. Tarian ini menampilkan unsur gerak utama seperti pacak gulu, kebyak dan seblak sampur, serta lumaksono.

“Tarian ini dulu pernah saya pelajari sejak masih SD ketika tinggal di Kartosuro. Dibutuhkan penjiwaan yang matang karena saya berakting sebagai penari pria, sebagai Pangeran mencari cinta, ” jelas dosen STEBi Lampung.

Dari 20 tarian klasik gaya Surakarta yang pernah dipelajarinya, Umi Khulsum Ph.D mengaku makin mencintai seni tari Jawa klasik. Setelah penampilan berurutan juga di ISI Surakarta ketika Hari Tari SeDunia, beberapa waktu lalu.

Adapun Pasar Rakyat dan Budaya (Pasar Raya) merupakan salah satu festival tahunan terbesar di Solo Raya yang menggabungkan esensi pasar tradisional, pameran UMKM kreatif, dan pertunjukan seni tradisi. Gelaran ke-3 festival ini baru saja sukses diselenggarakan pada 20–31 Juli 2026 di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).

“Saya bangga bisa tampil di acara ini, karena tidak semua penari bisa hadir di atas panggung yang ditonton para maestro seni Jawa Tengah, ” ujar Umi Khulsum, yang dilatih oleh Dona Dhian Ginanjar dari ISI Surakarta.

BACA JUGA:  Telepon Istri Berdering Duluan, Bapak Ini Kena Denda Rp200 Ribu!

Mengusung semangat “Road to Harmony of Java, Gumregut Nyawiji”, Pasar Raya menghadirkan beragam ekspresi seni dan budaya lainnya dari 61 kelompok seni pertunjukan dari berbagai kabupaten/kota, ditambah 10 kelompok seni lesung, 5 barongsai, 5 reog, dan 20 grup band. Di bidang seni rupa ditampilkan 100 karya lukis, 15 instalasi, dan 3 karya patung.

Tak hanya menjadi ruang pertunjukan, Pasar Raya TBJT menjadi ruang publik untuk berekspresi, belajar, berkolaborasi, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.