INDORAYATODAY.COM, GAZA – Delegasi senior Hamas yang dipimpin Khalil al-Hayya dijadwalkan tiba di Kairo, Mesir, Minggu, untuk membahas penguatan pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama Khalil al-Hayya ke Mesir sejak mengambil alih kepemimpinan Hamas.

Seorang sumber Hamas mengatakan kepada Anadolu, delegasi yang dipimpin al-Hayya dijadwalkan tiba di Kairo pada Minggu malam untuk melakukan pembicaraan dengan sejumlah pejabat Mesir.

Delegasi Hamas juga dijadwalkan bertemu Kepala Dinas Intelijen Umum Mesir Hassan Rashad. Pertemuan tersebut akan membahas sejumlah persoalan dan perkembangan terkait Palestina, terutama upaya memperkuat pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.

Sumber tersebut mengatakan delegasi Hamas tidak hanya beranggotakan al-Hayya. Sejumlah tokoh senior Hamas turut berada dalam rombongan.

Mereka antara lain Kepala Dewan Syura Hamas Mohammed Darwish, Kepala Hamas di luar negeri Khaled Meshaal, Kepala Hamas di Tepi Barat Zaher Jabarin, serta Kepala Kantor Hubungan Arab dan Islam Basem Naim.

Pertemuan di Kairo berlangsung di tengah perbedaan sikap mengenai pelaksanaan peta jalan untuk Gaza.

Sebelumnya, kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu menolak rencana 15 poin untuk Gaza yang telah disetujui Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dan diterima Hamas.

Netanyahu menegaskan Hamas harus dilucuti terlebih dahulu sebelum Israel melakukan penarikan pasukan lebih lanjut dari Jalur Gaza.

Sikap tersebut berbeda dengan peta jalan yang dikeluarkan BoP pada 31 Juli. Dalam rencana itu, pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel ditetapkan berlangsung secara bertahap dan bersamaan.

Selain persoalan pelucutan senjata dan penarikan pasukan Israel, peta jalan tersebut memuat sejumlah rencana untuk mengatur kondisi Gaza setelah perang.

Salah satu ketentuannya adalah pengalihan administrasi Gaza kepada komite teknokrat Palestina. Rencana tersebut juga mencakup pengerahan pasukan stabilisasi internasional.

BACA JUGA:  Iran dan Oman Dikabarkan Sepakat Bagi Hasil Biaya Layanan Selat Hormuz

Sementara itu, senjata akan ditempatkan di bawah kewenangan komite nasional dengan pengawasan internasional.

Pembahasan Hamas dengan pejabat Mesir diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan kesepakatan gencatan senjata di tengah perbedaan pandangan mengenai tahapan implementasinya.

Perundingan tersebut berlangsung setelah konflik Gaza menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur dalam skala besar.

Sejak Oktober 2023, perang Israel di Gaza yang didukung Amerika Serikat dilaporkan telah menewaskan sekitar 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 orang.

Sebagian besar korban disebut merupakan perempuan dan anak-anak. Serangan juga merusak atau menghancurkan hampir 90 persen infrastruktur di Jalur Gaza.