INDORAYATODAY.COM – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah memprioritaskan transformasi industri hijau berbasis tenaga surya.

Langkah strategis ini selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong kapasitas pembangkit listrik energi terbarukan hingga 100 gigawatt (GW) dalam 2-3 tahun ke depan.

“Sesuai arahan Presiden Prabowo, prioritas kami mencakup energi hijau, khususnya transformasi menuju industri berbasis tenaga surya guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil,” ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (20/8/2026).

Airlangga menjelaskan, fokus utama pemerintah tahun ini adalah percepatan program dedieselisasi, yaitu mengonversi sistem pembangkit listrik ber bahan bakar diesel di pulau-pulau kecil menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Langkah ini sekaligus mendukung Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) hingga 2034 dengan target PLTS sebesar 17,1 GW.

Gandeng Jerman dan Percepat Dana JETP

Untuk mengejar target akselerasi energi bersih tersebut, pemerintah membuka peluang kerja sama teknologi dan barang modal dengan negara sahabat, salah satunya Jerman. Jerman dinilai memiliki kapabilitas teknologi tinggi sekaligus menjadi mitra strategis dalam Just Energy Transition Partnership (JETP).

Airlangga mengungkapkan, dari total komitmen pendanaan internasional JETP sebesar US$ 21,4 miliar (sekitar Rp 356 triliun–Rp 359 triliun), penyerapannya sejauh ini baru mencapai US$ 4 miliar.

“Alokasi dana JETP perkembangan pencairannya agak lambat, baru sekitar US$ 4 miliar yang dimanfaatkan. Kita perlu bergerak lebih cepat,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan menyambut baik fokus transisi energi Indonesia. Ia menegaskan kesiapan sektor swasta dan akademisi Jerman untuk menyokong pengembangan energi terbarukan di Indonesia demi mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

BACA JUGA:  Bank Indonesia Pastikan Cadangan Devisa Masih Kuat untuk Jaga Rupiah