DEPOK, INDORAYATODAY.COM – Narasi dugaan keracunan susu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang melanda belasan siswa SD Al-Farabi, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, dipastikan hoaks.

Sebab, tidak ada satu pun laporan medis keracunan yang masuk ke puskesmas maupun Dinas Kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Devi Maryori, menegaskan susu dari SPPG 4 Bojong Pondok Terong yang dibagikan saat peristiwa tersebut dipastikan belum kedaluwarsa

“Saat kejadian tidak ada pelaporan ke Dinkes. Kami di-WA oleh orang tua murid yang mengaku anak-anak mengalami gejala (keracunan),” kata Devi saat detemui di Balai Kota Depok, Senin (12/10/2026).

Kabar dugaan keracunan tersebut bermula dari informasi seorang anggota DPRD Kota Depok yang mengirimkan link berita online.

Informasi itu bersumber dari orang tua siswa berinisial HI yang juga merupakan pimpinan redaksi sebuah media.

Namun, pengakuan mengenai adanya gejala mual tersebut hanya disampaikan secara lisan tanpa bukti medis.

“Karena memang tidak ada bukti, pengakuannya hanya secara lisan dari Pak HI,” ujar Devi.

Tim Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Korwil Depok, Rakha Pratama, juga telah menindaklanjuti lokasi.

Hasil pemantauan kesehatan menunjukkan kondisi anak-anak dalam keadaan sehat dan tidak membutuhkan penanganan medis.

“Dilaporkan tidak ada yang memburuk (keracunan), tidak ada efek yang harus dirawat ke rumah sakit,” tutur Devi.

Devi memastikan produk susu pelengkap program MBG yang disalurkan SPPG 4 Bojong Pondok Terong legal.

Masa kedaluarsa produk bermerek susu sekolah tersebut juga masih sangat panjang dan layak dikonsumsi.

“Susu itu masih dalam batas expired, belum kedaluarsa sama sekali,” ungkap Devi.

Selain itu, SPPG 4 Bojong Pondok Terong dipastikan telah memiliki Standard Layanan Sehat (SLS) resmi.

Dinkes Depok rutin memantau dan mengawasi ketat pemenuhan kriteria kesehatan di setiap dapur SPPG.

BACA JUGA:  Kecelakaan Maut Mahasiswa KKN di Tanah Bumbu, 7 Orang Tewas

“Sudah memenuhi SLS. Petugas kami sangat ketat dan tidak main-main soal standar kelaikan,” kata Devi.

Pihak Dinkes Depok bahkan telah mengundang langsung HI ke kantor untuk memberikan penjelasan transparan.

Prosedur penanganan keracunan makanan sebenarnya membutuhkan sampel muntahan serta sisa makanan untuk diuji laboratorium.

Namun, laporan resmi tidak pernah dibuat oleh pihak yang memviralkan isu keracunan tersebut.

Petugas Dinkes dan Puskesmas setempat yang mengecek ke lapangan juga tidak menemukan kasus keracunan.

“Hari Kamis petugas kami datang ke sana, ternyata memang tidak ada laporan sama sekali,” jelas Devi.

Dengan demikian, kualitas serta prosedur penyediaan makanan dari SPPG 4 Bojong Pondok Terong terbukti aman.