INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengklaim kesejahteraan petani mengalami peningkatan dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Salah satu indikator yang disampaikan Amran adalah Nilai Tukar Petani (NTP) yang disebut telah mencapai angka 131. Menurutnya, angka tersebut merupakan capaian tertinggi sepanjang sejarah.
“Capaian Kementerian Pertanian kesejahteraan dengan kesejahteraan petani kita lihat dari NTP (Nilai Tukar Petani) itu 131 tertinggi sepanjang sejarah. Ini sesuatu yang baik bagi petani,” ucap Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (19/10/2026).
NTP merupakan indikator yang membandingkan indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayarkan petani. Angka di atas 100 menunjukkan bahwa indeks harga yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang mereka bayarkan, relatif terhadap tahun dasar.
Amran mengaitkan peningkatan indikator tersebut dengan sejumlah kebijakan pemerintah yang ditujukan untuk menekan biaya produksi dan menjaga harga hasil panen.
Salah satu kebijakan yang disoroti Amran adalah penurunan harga pupuk hingga 20 persen.
Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah penting pemerintah untuk membantu petani mengurangi beban biaya produksi.
Selain itu, Presiden Prabowo menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Kebijakan HPP dimaksudkan untuk memberikan kepastian harga bagi petani sekaligus melindungi mereka dari praktik pembelian gabah dengan harga terlalu rendah.
Pemerintah juga menugaskan Perum Bulog sebagai penyerap hasil panen petani agar kebijakan harga pembelian dapat dijalankan.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berupaya menjaga pendapatan petani di tengah kebutuhan peningkatan produksi pangan nasional.
Selain indikator kesejahteraan petani, Amran memaparkan perkembangan perdagangan sektor pertanian sepanjang 2025.
Menurutnya, nilai ekspor meningkat sebesar Rp166 triliun, sementara nilai impor mengalami penurunan sebesar Rp41 triliun.
“Ekspor kita naik 2025 itu Rp 166 triliun, impor kita turun Rp 41 triliun. Rp 208 triliun tambahan nilai dengan kebijakan-kebijakan sektor pertanian,” jelas Amran.
Angka tersebut merupakan capaian yang disampaikan Mentan dalam konferensi pers, tanpa perincian lebih lanjut mengenai komoditas dan dasar perbandingan pada materi yang tersedia.
Amran meyakini berbagai kebijakan pertanian yang dijalankan pemerintah dapat menjadi landasan untuk mewujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan.
Meski memaparkan sejumlah capaian, ia menegaskan hasil pembangunan pertanian tidak terlepas dari kontribusi berbagai pihak, terutama petani, peternak, serta pelaku usaha hortikultura dan perkebunan.
“Kita Alhamdulillah Kementerian Pertanian pencapaian yang dicapai oleh teman-teman. Saya bagian kecil, terima kasih saya ucapkan kepada petani seluruh Indonesia, peternak semua hortikultura perkebunan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan