DEPOK, INDORAYA TODAY – Peringatan Hari Kartini tidak seharusnya berhenti pada simbol kebaya dan seremoni semata. Anggota DPRD Kota Depok, Qonita Lutfiyah, menegaskan bahwa esensi perjuangan Raden Ajeng Kartini harus dimaknai lebih dalam sebagai dorongan keberanian berpikir, memperoleh pendidikan, dan memperjuangkan kesetaraan.

Qonita menyampaikan, Kartini merupakan pelopor perubahan pola pikir masyarakat terhadap peran perempuan. Di tengah keterbatasan pada masanya, Kartini mampu membuka jalan bagi perempuan untuk mendapatkan hak yang lebih setara, terutama dalam bidang pendidikan dan pilihan hidup.

“Melalui gagasan dan keberaniannya, Kartini membuka jalan bagi lahirnya kesetaraan yang kini mulai dirasakan oleh perempuan Indonesia,” ujar Qonita, Selasa (21/4/2026).

Meski demikian, Qonita menilai perjuangan tersebut belum sepenuhnya tuntas. Ia menyebut perempuan saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari stereotip gender, kesenjangan kesempatan, hingga minimnya keterwakilan di posisi strategis.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan hingga awal 2026 masih berada di kisaran 56–57 persen. Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan yang cukup lebar dibandingkan laki-laki, sekaligus menjadi indikasi masih adanya hambatan struktural di dunia kerja.

“Kesetaraan hari ini tidak hanya soal kesempatan, tetapi juga pengakuan dan kualitas peran. Perempuan masih sering menghadapi hambatan yang tidak selalu terlihat,” jelasnya.

Dalam pandangannya, pendidikan menjadi kunci utama untuk melanjutkan semangat Kartini. Perempuan berpendidikan dinilai mampu membangun kemandirian sekaligus membawa perubahan positif, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat luas.

Qonita juga menekankan pentingnya perempuan memiliki landasan moral dan spiritual yang kuat. Menurutnya, kemajuan perempuan harus tetap selaras dengan nilai-nilai agama dan norma sosial agar mampu menjaga integritas serta keseimbangan dalam kehidupan.

BACA JUGA:  Yeti Wulandari Soroti Peran Paskibra Depok Sebagai Calon Pemimpin Masa Depan

Selain itu, ia menyoroti pentingnya kehadiran perempuan dalam ruang pengambilan keputusan. Ia menilai, partisipasi perempuan tidak hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas perspektif yang mampu memperkaya kebijakan agar lebih inklusif dan responsif.

“Ketika perempuan diberi ruang untuk berpartisipasi, maka kebijakan yang dihasilkan akan lebih mencerminkan kebutuhan masyarakat secara menyeluruh,” tambahnya.

Lebih lanjut, Qonita mengajak generasi muda perempuan untuk terus mengembangkan diri dan tidak ragu mengambil peran. Ia menilai, tantangan terbesar perempuan masa kini kerap berasal dari dalam diri, seperti kurangnya rasa percaya diri dan ketakutan untuk melangkah.

Menutup pernyataannya, Qonita menegaskan bahwa Hari Kartini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan pengingat bahwa perjuangan perempuan harus terus dilanjutkan melalui kontribusi nyata.

“Perempuan masa kini memiliki tanggung jawab bukan hanya menikmati hasil perjuangan, tetapi juga melanjutkannya dengan keberanian menjadi bagian dari solusi,” tutupnya.