INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Pengelola budidaya ikan lele di wilayah Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Nurjaya, mengkritik minimnya penyerapan hasil budidaya lele oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Keluhan itu disampaikannya saat menerima kunjungan perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) bersama jajaran Pemerintah Kota Depok yang meninjau rantai pasok bahan pangan untuk dapur MBG pada Rabu (8/7/2026).

Di hadapan rombongan, Nurjaya mengungkapkan bahwa dirinya sempat menaruh harapan besar terhadap program MBG sebagai pasar baru bagi pembudidaya lele lokal. Saat ini ia mengelola 23 kolam budidaya dengan usia ikan yang bervariasi, mulai dari dua minggu hingga sekitar dua setengah bulan.

Namun, harapan tersebut belum sesuai kenyataan. Dari 31 SPPG yang telah beroperasi di Kecamatan Tapos, hanya satu hingga dua dapur yang mengambil pasokan lele dari tempat usahanya. Bahkan, pembelian itu tidak dilakukan secara rutin setiap pekan.

“Saya tadinya semangat budidaya lele karena berpikir bisa dipakai di dapur MBG. Kenyataannya dari 31 dapur MBG di Kecamatan Tapos, yang mengambil lele saya hanya satu sampai dua dapur. Itu pun tidak setiap minggu, kadang dua minggu sekali,” ujar Nurjaya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat hasil budidaya yang seharusnya dapat diserap dapur MBG justru menumpuk di kolam. Ikan yang terus membesar akhirnya harus dijual ke pasar maupun kepada rekan-rekannya di luar kebutuhan program MBG agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Nurjaya menilai, apabila sekitar 10 dari 31 SPPG di Kecamatan Tapos dapat menyerap hasil panennya secara rutin, kapasitas budidaya yang dimiliki masih mampu memenuhi kebutuhan tersebut dalam setiap siklus panen.

Ia juga menyebut secara keseluruhan telah memasok kebutuhan sekitar enam SPPG. Namun, sebagian besar dapur tersebut berada di luar Kecamatan Tapos.

BACA JUGA:  Survei LSDI: 79,5 Persen Pendukung MBG di Depok Didominasi Kaum Emak-emak

Dalam sekali pengiriman, volume lele yang didistribusikan menyesuaikan jumlah penerima manfaat di masing-masing dapur MBG. Rata-rata pengiriman berkisar antara 180 kilogram hingga 250 kilogram.

Nurjaya berharap keberadaan puluhan SPPG di Kecamatan Tapos dapat lebih mengutamakan hasil budidaya pelaku usaha lokal. Menurutnya, semakin banyak dapur MBG yang menyerap hasil panen peternak di wilayah sekitar akan memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan semangat masyarakat untuk mengembangkan usaha budidaya.

“Saya berharap mulai dari korcam, korwil sampai tingkat Kota Depok bisa mendorong hasil budidaya lele kami masuk ke dapur MBG. Bukan hanya saya, tetapi juga teman-teman pembudidaya lainnya,” katanya.

Ia menambahkan, banyak pembudidaya lele di Depok yang telah meningkatkan kapasitas produksi karena berharap dapat menjadi bagian dari rantai pasok program MBG.

Nurjaya berharap keterlibatan peternak lokal dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan Program MBG tidak berhenti sebatas wacana. Menurutnya, penyerapan hasil budidaya oleh lebih banyak SPPG di Kecamatan Tapos akan membantu menjaga keberlangsungan usaha para pembudidaya sekaligus memperkuat rantai pasok pangan dari pelaku UMKM setempat.