Oleh: Baldan Fattulah, Pengelola Tamam Baca Kedaung, Depok

INDORAYATODAY.COM – Kemerdekaan Indonesia yang memasuki usia ke-81 tahun tidak hanya dirayakan melalui upacara dan perayaan.

Di sudut Kota Depok, semangat mengisi kemerdekaan tumbuh dari ruang sederhana bernama Taman Baca Kedaung.

Di tempat itu, buku menjadi pintu bagi anak-anak untuk mengenal pengetahuan, bertanya, bermain, sekaligus membangun mimpi.

Bagi pegiat literasi dan pengelola Taman Baca Kedaung, keberadaan taman baca merupakan bagian kecil dari upaya merawat masa depan Indonesia.

Tantangan gerakan literasi saat ini tidak ringan. Salah satunya berkaitan dengan keterbatasan anggaran untuk perpustakaan dan berbagai program literasi.

Namun, keterbatasan tersebut dinilai tidak seharusnya mematikan semangat masyarakat untuk terus bergerak.

Justru, kondisi itu menjadi momentum untuk memperkuat gotong royong dan kerelawanan dalam membangun budaya membaca.

Taman baca mungkin tidak memiliki ruangan luas atau fasilitas yang lengkap.

Namun, setiap hari terdapat anak-anak yang datang untuk membaca, berdiskusi, bermain, dan menemukan pengalaman baru.

Di sisi lain, para relawan meluangkan waktu dan tenaga untuk mendampingi mereka.

Kehadiran mereka menjadi gambaran bahwa gerakan literasi tidak selalu membutuhkan fasilitas besar.

Sebuah buku, ruang sederhana, dan seorang relawan yang bersedia hadir bisa menjadi awal perubahan.

Taman baca pun tidak sekadar menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku.

Lebih dari itu, ruang tersebut menjadi tempat anak-anak tumbuh, masyarakat belajar, serta relawan mengabdikan diri.

Literasi juga tidak berhenti pada kemampuan membaca dan memahami tulisan.

Literasi menjadi bekal untuk memahami kehidupan, berpikir kritis, menyampaikan gagasan, dan membuka peluang masa depan.

Karena itu, taman baca perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan masyarakat.

Ketika dukungan anggaran menghadapi keterbatasan, kolaborasi berbagai pihak menjadi semakin penting.

BACA JUGA:  Gagap Vokasi, Mandek Industrialisasi: Urgensi Keseimbangan Pendidikan Tinggi Teknik

Pemerintah, masyarakat, komunitas, lembaga pendidikan, dunia usaha, hingga relawan dapat mengambil peran sesuai kemampuannya.

Semangat tersebut terasa semakin relevan ketika Indonesia memperingati HUT ke-81.

Kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan melalui pertempuran kini memiliki bentuk perjuangan berbeda.

Mengisi kemerdekaan dapat dilakukan melalui pendidikan, pengetahuan, kepedulian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dari Taman Baca Kedaung, perjuangan itu dilakukan dengan cara sederhana.

Setiap anak yang menemukan kegembiraan dari sebuah buku menjadi bagian dari masa depan Indonesia yang sedang dibangun.

Sebab, merawat kemerdekaan bukan hanya mengenang perjuangan para pendahulu.

Merawat kemerdekaan juga berarti memastikan generasi berikutnya memiliki ruang untuk belajar, bermimpi, dan tumbuh.

Dari sudut taman baca, Indonesia dirawat melalui halaman demi halaman buku dan langkah kecil para relawan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.