INDORAYATODAY.COM — Kendati wilayah Pontianak dan sekitarnya sempat diguyur hujan lebat pada Selasa (15/9/2026) malam, sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar).

General Manager Bandara Internasional Supadio, Maya Damayanti menyatakan, jarak pandang (visibility) di area landasan pacu sempat merosot drastis hingga tersisa 600 meter. Kondisi ini dinilai sangat membahayakan keselamatan proses lepas landas maupun pendaratan pesawat.

“Asap kebakaran hutan dan lahan masih mengganggu operasional Bandara Supadio Pontianak setelah jarak pandang turun hingga 600 meter. Kondisi ini tidak memungkinkan pesawat untuk melakukan pendaratan dan penerbangan secara normal,” kata Maya di Kubu Raya, Rabu (16/9/2026).

Berdasarkan data operasional bandara, gangguan jarak pandang tersebut berdampak pada belasan jadwal penerbangan. Sebanyak 10 penerbangan mengalami penundaan (delay), yang terdiri dari lima jadwal kedatangan dan lima keberangkatan.

Selain itu, pengelola bandara mencatat sedikitnya empat penerbangan terpaksa dibatalkan (cancelled), meliputi dua penerbangan kedatangan dan dua keberangkatan.

Kondisi cuaca buruk ini juga memaksa maskapai melakukan tindakan penyelamatan (divert dan return to base). Pesawat Batik Air ID 6228 rute Jakarta–Pontianak memutuskan kembali ke bandara asal (RTB). Sementara itu, penerbangan Lion Air JT 988 rute Batam–Pontianak terpaksa dialihkan pendaratannya (divert) ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.

Meski mayoritas penerbangan terganggu, sejauh ini terdapat dua pesawat yang berhasil lepas landas dan satu pesawat yang mendarat di Bandara Supadio saat kondisi jarak pandang memungkinkan.

Maya menegaskan, pihak pengelola bandara terus memantau dinamika jarak pandang secara ketat demi memprioritaskan keselamatan dan keamanan penerbangan.

BACA JUGA:  Update Gempa NTT, 11.925 Rumah Rusak 70 Orang Tewas