INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Timnas Indonesia mendapat sorotan media olahraga Italia setelah memastikan tiket final FIFA ASEAN Cup 2026 dengan kemenangan 9-2 atas Bangladesh.
Sorotan tersebut datang dari *Corriere dello Sport*, yang menaruh perhatian pada keberhasilan Indonesia melaju ke partai puncak FIFA ASEAN Cup 2026. Hal itu disampaikan PSSI melalui keterangan resmi pada Sabtu (3/10/2026).
Menurut PSSI, media olahraga Italia tersebut menyoroti momentum keberhasilan Indonesia mencapai final yang bertepatan dengan empat tahun Tragedi Kanjuruhan. Pencapaian itu disebut menjadi gambaran perkembangan sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Indonesia memastikan langkah ke final setelah menghajar Bangladesh 9-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Dalam sorotannya, *Corriere dello Sport* juga menyinggung proses perubahan dalam sepak bola Indonesia. Perjalanan Timnas Indonesia menuju final ditempatkan sebagai bagian dari transformasi yang mencakup pembenahan tata kelola, profesionalisme, penguatan tim nasional, pembinaan pemain usia muda, hingga pemanfaatan potensi pemain diaspora.
Transformasi tersebut terus didorong PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir yang menjabat Ketua Umum sejak Februari 2023, sekitar empat bulan setelah Tragedi Kanjuruhan.
Dalam wawancara dengan *Corriere dello Sport*, Erick menggambarkan Indonesia sebagai “raksasa yang sedang tidur”. Menurut dia, Indonesia memiliki potensi sepak bola yang besar, tetapi membutuhkan pengelolaan yang lebih profesional dan transparan.
Erick juga menilai Tragedi Kanjuruhan menjadi salah satu titik balik penting dalam proses pembenahan sepak bola nasional. Karena itu, keberhasilan Timnas Indonesia mencapai final tepat empat tahun setelah tragedi tersebut memiliki makna tersendiri.
“Empat tahun lalu, kita kehilangan 135 saudara kita di Kanjuruhan. Sebelum pertandingan kita mengheningkan cipta untuk mengenang mereka, lalu para pemain berjuang sampai menit ke-97 untuk membawa Indonesia ke final,” kata Erick.
Erick menegaskan pencapaian tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan hasil pertandingan. Menurut dia, perjalanan Timnas Indonesia juga menunjukkan proses pembelajaran sepak bola nasional dari peristiwa masa lalu.
“Bagi saya, ini bukan sekadar tentang menang dan kalah. Ini tentang bagaimana sepak bola Indonesia belajar dari masa lalu dan terus bergerak maju,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ingatan mengenai Kanjuruhan harus tetap dijaga sebagai pengingat sekaligus pijakan dalam membangun sepak bola Indonesia yang lebih profesional. Pembenahan itu juga diarahkan untuk memastikan keamanan dan kenyamanan suporter yang memberikan dukungan langsung di stadion. ***

Tinggalkan Balasan