DEPOK, INDORAYATODAY.COM – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Depok bergerak cepat menyikapi video viral yang diduga memperlihatkan warga binaan mengonsumsi sabu.

Kepala Rutan Kelas I Depok Ario Galih Maduseno memastikan video tersebut memang direkam di dalam Rutan Depok.

Hal itu disampaikan Ario saat konferensi pers di Rutan Depok, Minggu (4/10/2026).

“Setelah kami investigasi, apa yang beredar di video tersebut memang berada di Rutan Depok,” kata Ario.

Tak hanya warga binaan, pemeriksaan juga mengarah kepada dua petugas Rutan Depok.

Keduanya merupakan anggota jajaran pengamanan dan staf Bimbingan Kerja.

Saat ini, kedua petugas tersebut masih dalam proses pemeriksaan terkait dugaan keterlibatan dalam pelanggaran tersebut.

“Untuk sementara ini, dua orang. Jelas petugas kami, pegawai Rutan Depok,” ujar Ario.

Rutan Depok juga telah melaporkan dugaan keterlibatan petugas tersebut kepada pihak kepolisian.

Selain itu, laporan disampaikan kepada Kantor Wilayah dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Tim gabungan Kanwil, Ditjenpas Jawa Barat, Ditjenpas, dan Rutan Depok akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengurai fakta sekaligus menentukan tindakan sesuai aturan yang berlaku.

Ario menyebut pemeriksaan di kamar yang menjadi lokasi video melibatkan sekitar 22 warga binaan.

Dari jumlah tersebut, sekitar tiga hingga empat orang masih didalami lebih lanjut.

“Kalau kita pemeriksaan di kamar itu ada kurang lebih 22 warga binaan, dan yang kami dalami lagi ada sekitar tiga sampai empat orang,” jelasnya.

Dalam video yang beredar, tampak sejumlah orang berada dalam sebuah ruangan dengan musik cukup keras.

Beberapa orang terlihat berjoget.

Salah seorang di antaranya tampak memegang benda yang dinarasikan sebagai alat isap sabu.

Video tersebut sebelumnya diunggah akun Instagram @dewanperwakilanetizen.id pada Sabtu (3/10/2026).

BACA JUGA:  Terungkap! Pria Arogan Penganiaya Satpam Renta di Depok Akui Minum Alkohol Sebelum Beraksi

Rekaman itu kemudian diunggah ulang akun @depokuntuksemua.

Kemunculan video tersebut menjadi sorotan karena terjadi tidak lama setelah razia gabungan di Rutan Depok pada 23 September 2026.

Kala itu, petugas melakukan penyisiran di empat blok hunian.

Sebanyak 50 warga binaan juga menjalani tes urine secara acak.

Hasil pemeriksaan disebut seluruhnya negatif.

Razia tersebut juga diklaim menghasilkan temuan zero handphone, zero senjata tajam, dan zero narkoba.

Ario mengatakan pihaknya memang rutin melakukan razia, baik secara insidentil maupun rutin.

Namun, persoalan keterbatasan sumber daya manusia menjadi salah satu tantangan dalam pengamanan Rutan Depok.

Saat ini terdapat sekitar 1.279 warga binaan.

Sementara jumlah petugas yang berjaga dalam satu shift hanya sekitar 10 orang.

“Per hari ini 1.279, sedangkan yang shift berjaga itu 10 orang,” ungkap Ario.

Karena itu, Rutan Depok menggandeng sejumlah pihak eksternal untuk memperkuat pengawasan.

Di antaranya kepolisian, TNI, BNNK, hingga Brimob.

Ario menegaskan pihaknya tidak akan memberikan ruang terhadap peredaran narkoba di dalam Rutan Depok.

Dia juga memastikan proses pemeriksaan dilakukan secara transparan.

“Siapapun yang terbukti terlibat melanggar akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku,” tegasnya.

Rutan Depok, kata Ario, berkomitmen melakukan pembenahan sekaligus perang terhadap peredaran gelap narkoba.

“Dan kami, Rutan Depok, berkomitmen perang terhadap peredaran gelap narkoba,” pungkasnya.