INDORAYATODAY.COM – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Ahmad Muzani, menekankan pentingnya pengembangan industri hilirisasi komoditas kelapa guna meningkatkan pendapatan daerah dan kesejahteraan petani di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan.
Banyuasin dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil kelapa terbesar di Sumsel.
Penegasan ini disampaikan Ahmad Muzani saat melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) di Desa Karang Anyar, Kecamatan Sumber Marga Telang, pada Rabu (10/12/2025). Kunker ini mengusung tema penguatan tata kelola pemerintahan desa dan pemberdayaan petani kelapa.
Sekretaris Daerah Banyuasin, Erwin Ibrahim, yang menyambut kehadiran Ketua MPR RI, menyatakan komitmen Pemkab untuk mengoptimalkan sektor kelapa sebagai salah satu upaya meningkatkan ekonomi daerah.
Ahmad Muzani menyoroti bahwa meskipun kelapa seringkali kurang dilirik dibandingkan sawit, komoditas ini kini memiliki potensi besar yang menjanjikan. Sayangnya, industri hilirisasi kelapa di tingkat lokal belum berkembang maksimal.
“Memang selama ini kelapa belum menjadi komoditas tanaman yang menghasilkan pendapatan besar karena harganya murah dan saat ini sedang menurun. Namun, sekarang kelapa sudah menjadi komoditas yang menjanjikan,” jelas Muzani.
Ia menambahkan bahwa Indonesia merupakan negara penghasil kelapa terbesar di dunia, dan kelapa dari Sumsel bahkan telah diekspor hingga ke Tiongkok, menjadikannya komoditas andalan.
“Perusahaan yang melakukan hilirisasi tidak hanya membeli buahnya saja. Airnya, sabutnya, tempurungnya, semua bisa diolah dan memiliki nilai ekonomi. Kita harus menarik industri hilirisasi ke sini agar harga kelapa meningkat,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Muzani juga menyerahkan bibit kelapa sebagai bentuk dukungan nyata kepada Pemkab Banyuasin dan Ketua Perpec Kindo Banyuasin untuk memperkuat komoditas kelapa.
Ketua Perpec Kindo sekaligus Ketua FKKDI Banyuasin, Sarippudin Depabulang, berharap kehadiran Ketua MPR RI dapat membawa kemajuan bagi petani, terutama setelah harga kelapa sempat mengalami penurunan drastis dari Rp 7.000 per butir.

Tinggalkan Balasan