INDORAYATODAY.COM – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa kekayaan budaya Indonesia bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekuatan penggerak (driving force) untuk membentuk masa depan bangsa.
Fadli menyebut Indonesia sebagai negara dengan status megadiversity yang memiliki 1.340 kelompok etnis dan ribuan warisan budaya. Menurutnya, keragaman ini adalah modal utama bagi Indonesia untuk muncul sebagai civilization state (negara peradaban).
Fadli membandingkan potensi Indonesia dengan kekuatan soft power negara lain seperti Amerika Serikat dengan Hollywood atau Korea Selatan dengan K-Wave. Ia menekankan pentingnya Indonesia menciptakan “gelombang budaya” serupa di kancah global.
“Kita bisa menjadi pusat kebudayaan dunia. Mungkin di bidang ekonomi atau politik kita masih bersaing, tetapi soal budaya, kita bisa menjadi episentrum dunia,” ujar Fadli di hadapan peserta Munas.
Fadli juga memaparkan beberapa poin penting terkait jati diri sejarah Indonesia:
Jalur Perdagangan Islam: Temuan koin kuno era Abbasiyah di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, memperkuat bukti bahwa Islam telah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7 Masehi.
Peradaban Tertua: Temuan lukisan purba di Muna, Sulawesi Tenggara, yang diperkirakan berusia 67.800 tahun, menempatkan Indonesia sebagai salah satu lokasi peradaban tertua di dunia.
Agenda Repatriasi 2025: Pemerintah tengah menjajaki pemulangan 28.131 fosil koleksi Dubois dari Belanda, termasuk fosil asli Homo erectus.
Sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Kebudayaan kini berdiri sendiri untuk mempercepat perlindungan dan pengembangan budaya. Fadli mengungkapkan rencana pembentukan forum internasional bertajuk CHANDI (Culture, Heritage, Art, Diplomacy, and Innovation).
“Melalui diplomasi dan kerja sama internasional, kita ingin budaya tidak lagi dianggap sebagai beban, melainkan menjadi engine of growth atau mesin pertumbuhan bangsa,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan