INDORAYATODAY.COM, CILACAP – Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan peletakan batu pertama 13 Proyek Hilirisasi Nasional Fase II dengan nilai investasi sekitar Rp116 triliun, Rabu (29/4/2026).

Peresmian yang berlangsung di Cilacap ini menandai percepatan program industrialisasi berbasis sumber daya alam untuk mendorong kemandirian ekonomi nasional.

Prabowo menegaskan hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

“Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur,” ujarnya.

Sebanyak 13 proyek yang dimulai pada fase kedua ini mencakup sektor energi, mineral, dan pertanian. Sejumlah proyek di antaranya diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Pengembangan kilang gasoline di Dumai dan Cilacap ditargetkan mampu menekan impor bensin hingga 2 juta kiloliter per tahun. Selain itu, pembangunan terminal BBM dengan tambahan kapasitas 153 ribu kiloliter juga menjadi bagian dari program ini.

Pemerintah juga mengembangkan pengolahan batu bara menjadi DME sebagai substitusi impor LPG, serta pengolahan sawit menjadi biodiesel.

Selain sektor energi, proyek hilirisasi juga menyasar industri mineral dan manufaktur, seperti produksi baja berbasis nikel, pengolahan bijih besi, serta hilirisasi tembaga dan emas.

Di sektor agroindustri, pengolahan komoditas seperti sawit, pala, dan kelapa dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah produk nasional sekaligus membuka peluang kerja.

Program ini diharapkan memperkuat rantai pasok industri dalam negeri serta memperluas aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.

Daftar 13 Proyek Hilirisasi Nasional Fase II

  1. Pembangunan fasilitas kilang gasoline di Dumai (Riau)
  2. Pembangunan fasilitas kilang gasoline di Cilacap (Jawa Tengah)
  3. Pembangunan tangki operasional BBM di Palaran (Kalimantan Timur)
  4. Pembangunan tangki operasional BBM di Biak (Papua)
  5. Pembangunan tangki operasional BBM di Maumere (Nusa Tenggara Timur)
  6. Fasilitas pengolahan batu bara menjadi DME di Tanjung Enim (Sumatra Selatan)
  7. Pengembangan fasilitas manufaktur baja nirkarat dari nikel di Morowali Industrial Park (Sulawesi Tengah)
  8. Pengembangan fasilitas produksi slab baja karbon dari bijih besi lokal di Cilegon (Banten)
  9. Ekosistem dan fasilitas produksi aspal Buton di Karawang (Jawa Barat)
  10. Hilirisasi tembaga dan emas di Gresik (Jawa Timur)
  11. Pengolahan sawit menjadi oleofood dan biodiesel di Sei Mangkei (Sumatra Utara)
  12. Fasilitas pengolahan pala menjadi oleoresin di Maluku Tengah (Maluku)Fasilitas terpadu kelapa di Maluku Tengah (Maluku)
BACA JUGA:  KH Syukron Makmun Nilai Pemberantasan Korupsi Hadapi Hambatan Besar, Minta Prabowo Tak Mundur

Dengan total investasi Rp116 triliun, proyek hilirisasi fase kedua ini diharapkan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, memperkuat kemandirian energi, serta menciptakan nilai tambah bagi sumber daya domestik.