INDORAYATODAY.COM – Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama jajaran menteri Kabinet Merah Putih dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka, merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level terlemah sepanjang masa di posisi Rp 17.410 per dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam arahannya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya sinergi antara otoritas fiskal dan moneter untuk membendung aliran modal keluar (capital outflow) yang menekan pasar keuangan domestik.

“Bapak Presiden menyoroti dinamika capital outflow. Disepakati koordinasi antara Bank Indonesia (BI) dan Menteri Keuangan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan ke depan,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan strategi baru pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Salah satunya adalah rencana penerbitan surat utang berdenominasi yuan China atau Panda Bond.

“Kita akan melakukan diversifikasi agar tidak terlalu tergantung pada dolar. Tadi Pak Presiden menitipkan pesan untuk disampaikan kepada pasar bahwa fundamental ekonomi kita kuat dan likuiditas cukup. Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir,” tegas Purbaya.

Ia bahkan optimis terhadap prospek pasar modal Indonesia yang sedang mengalami akselerasi pertumbuhan. “Ekonomi kita sedang tumbuh lebih cepat. Saya katakan, ini saatnya untuk investasi di pasar modal Indonesia, ke depan akan untung banyak,” tambahnya.

7 Langkah Strategis Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memaparkan tujuh aksi nyata bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan menekan spekulasi:

Intervensi Masif: Melakukan intervensi di pasar valas domestik (tunai dan DNDF) serta pasar luar negeri (NDF) di pusat keuangan global seperti Singapura dan New York.

Optimalisasi SRBI: Mendorong aliran masuk modal asing melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menutup outflow di pasar saham dan SBN.

BACA JUGA:  Rupiah Sentuh Level Psikologis 17.000 per Dolar AS, Analis Nilai Fundamental Ekonomi Masih Kuat

Pembelian SBN: Melanjutkan pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas harga obligasi negara.

Menjaga Likuiditas: Memastikan likuiditas perbankan tetap longgar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Batasan Pembeli Dolar: Memperketat pembelian dolar AS tanpa underlying dari sebelumnya US$ 100.000 menjadi US$ 50.000 per bulan untuk meredam spekulan.

Ekspansi Pasar Offshore: Melibatkan bank domestik untuk aktif bertransaksi di pasar offshore NDF guna menambah pasokan valas.

Pengawasan Ketat: Bersama OJK, BI akan meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar oleh korporasi dan perbankan.

Melalui langkah-langkah terukur ini, pemerintah yakin nilai tukar rupiah akan kembali stabil seiring dengan penguatan fundamental ekonomi nasional pada kuartal II-2026.