INDORAYATODAY.COM – Seluruh aktivis kemanusiaan yang sebelumnya ditahan oleh militer Israel, termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI), dilaporkan telah dibebaskan. Para relawan yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 dan Freedom Flotilla Coalition (FFC) tersebut kini sedang menjalani proses pemulangan ke negara masing-masing melalui jalur diplomatik internasional.

Kabar pembebasan ini dikonfirmasi oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) setelah menerima pembaruan dari tim hukum yang terus memantau perkembangan di lapangan. Steering Committee GPCI, Maimon Herawati, menyatakan bahwa seluruh relawan telah keluar dari pusat penahanan dan masuk dalam daftar repatriasi.

“Alhamdulillah, saudara kita ada dalam daftar yang diberikan oleh penjajah kepada tim. Dan nama mereka termasuk yang akan naik pesawat,” ujar Maimon dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (23/5/2026). Menurut dia, pembebasan para relawan tidak terlepas dari besarnya dukungan serta solidaritas masyarakat internasional yang terus menyuarakan isu kemanusiaan untuk Gaza.

Secara keseluruhan, sebanyak 428 aktivis Global Peace Convoy dilaporkan telah dibebaskan. Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, turut mengonfirmasi kebebasan sembilan WNI yang sempat ditahan oleh otoritas Israel tersebut.

“Pemerintah Indonesia menyampaikan bahwa sembilan warga negara Indonesia yang ditangkap militer Israel kini telah dibebaskan. Mereka saat ini dalam perjalanan meninggalkan wilayah Israel menuju Istanbul, Turki, untuk proses pemulangan,” kata Menlu Sugiono.

Para aktivis tersebut diterbangkan menuju Istanbul melalui Bandara Umm Al-Rashrash (yang diklaim oleh Israel sebagai Bandara Eilat/Ramon). Proses pemulangan menggunakan penerbangan khusus Turkish Airlines yang disewa oleh Pemerintah Turki. Delegasi Global Sumud Flotilla diberangkatkan melalui tiga penerbangan terpisah, yakni dengan nomor penerbangan TK 6919, TK 6921, dan TK 6925.

Sementara itu, Aktivis GPCI sekaligus Manajer Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, Syamsul Ardiansyah, menjelaskan bahwa para relawan sempat menjalani serangkaian pemeriksaan oleh pihak Israel sebelum dipindahkan ke bandara untuk proses deportasi.

BACA JUGA:  Iran di Atas Angin, AS Terjebak Tarik Ulur Diplomasi di Selat Hormuz

“Proses deportasi ini diawali dengan proses interview, semacam pemeriksaan ke semua partisipan yang dilakukan oleh pihak Israel. Kemudian dipindahkan ke bandara lalu dideportasi. Kami masih memantau perkembangan ini secara langsung,” kata Syamsul.

Setibanya di Turki, para relawan dijadwalkan menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh guna memastikan kondisi fisik mereka, termasuk memberikan penanganan medis terhadap kemungkinan adanya luka-luka yang dialami selama masa penahanan.

Misi Global Sumud Flotilla sendiri merupakan gerakan solidaritas internasional lintas negara. Misi ini bertujuan untuk menembus blokade demi menyalurkan bantuan kemanusiaan serta logistik darurat bagi warga Palestina yang berada di Jalur Gaza.