INDORAYATODAY.COM – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono angkat bicara menanggapi kritik mantan Wakil Menlu Dino Patti Djalal mengenai intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu sering.
Sugiono menekankan pentingnya kehadiran fisik dan pertemuan langsung dalam menjalankan diplomasi internasional. “Semua saran, semua kritik dalam langkah perbaikan itu bagus, baik, tentu saja harus konstruktif,” kata Sugiono.
Pernyataan tersebut disampaikan Sugiono usai menggelar pertemuan bilateral dengan Menlu Madagaskar Alice N’Diaye pada Rabu (3/6). Kendati terbuka terhadap masukan, Sugiono mengingatkan agar setiap kritik didasarkan pada fakta dan data yang akurat.
Mengenai saran untuk mengoptimalkan interaksi secara daring (online), Sugiono menilai pertemuan tatap muka memiliki nilai strategis yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, terutama dalam membangun kedekatan personal antarkepala negara.
“Jika bertemu langsung, kita bisa melihat bahasa tubuh serta ada kedekatan personal. Dari situ kita bisa berbicara mengenai hal yang lebih banyak,” jelasnya.
Sugiono menegaskan, rangkaian lawatan internasional yang dilakukan Presiden Prabowo selama 1,5 tahun terakhir merupakan implementasi amanat konstitusi agar Indonesia aktif dalam pergaulan dunia, sekaligus membawa manfaat nyata bagi rakyat. Langkah ini sejalan dengan prinsip politik luar negeri Prabowo, yakni “seribu kawan terlalu sedikit dan satu musuh terlalu banyak”.
Dia memastikan setiap kunjungan kenegaraan telah direncanakan dengan matang dan melalui diskusi diplomatik yang komprehensif, termasuk melibatkan masukan dari Kemlu.
“Indonesia adalah bangsa yang ingin terlibat dalam upaya perdamaian dan ketertiban dunia, sehingga secara proaktif menawarkan dirinya untuk jadi jembatan,” tutur Sugiono.
Sebelumnya, Dino Patti Djalal menyampaikan kritik terbuka terkait frekuensi perjalanan luar negeri Presiden Prabowo melalui sebuah unggahan video di media sosial pada Sabtu (30/5). Dino menyebut intensitas perjalanan tersebut tidak lazim dan memakan biaya besar.
“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri. Semenjak menjabat menjadi Presiden, 1 dari 6 hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran,” kata Dino.
Kritik tersebut sebelumnya juga telah direspons oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya pada Senin (1/6). Teddy pasang badan dan menegaskan bahwa rangkaian kunjungan luar negeri Presiden Prabowo selama 18 bulan terakhir telah membuahkan hasil konkret bagi stabilitas nasional.
“Yang pertama Indonesia masuk BRICS. Manfaatnya apa? Ya sekarang ini di tengah konflik krisis dunia situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik, stok pangan aman. Kemudian yang kedua tarif 0 persen di Uni Eropa,” ungkap Teddy.
Selain itu, Teddy memaparkan sejumlah capaian lain dari hasil diplomasi proaktif tersebut, di antaranya realisasi komitmen investasi sebesar Rp 2.430 triliun, pengadaan alutsista melalui kerja sama internasional, hingga kepastian pembangunan Kampung Haji Indonesia di Arab Saudi.

Tinggalkan Balasan