INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta layak diperkenalkan sebagai simbol toleransi Indonesia.

Menag Nasaruddin Umar menyampaikan pandangan tersebut saat menerima kunjungan Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Reem Alabali Radovan.

Sebelum bertemu Menag, Radovan bersama rombongan yang terdiri dari anggota parlemen Jerman mengunjungi Masjid Istiqlal dan kemudian melanjutkan kunjungan ke Katedral Jakarta.

Menurut Nasaruddin, kunjungan tersebut menunjukkan adanya perhatian terhadap keberadaan dua rumah ibadah berbeda agama yang terhubung secara langsung melalui Terowongan Silaturahim.

“Saya kira ini adalah sebuah simbol yang perlu diperkenalkan oleh dunia. Bahwa dua rumah ibadah itu disatukan oleh sebuah tunnel, tolerance tunnel,” kata Nasaruddin yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal.

Ia mengatakan Radovan dan rombongan terkesan melihat konsep tersebut. Terowongan itu dinilai membawa pesan persaudaraan sekaligus toleransi antarpemeluk agama.

“Mereka sangat terkesan karena inilah yang pertama kali dia lihat ada semacam rumah ibadah kembaran antara masjid dengan katedral yang dihubungkan dengan tolerance tunnel,” ujarnya.

Nasaruddin menyebut Terowongan Silaturahim sebagai satu-satunya terowongan toleransi di dunia. Karena itu, keberadaannya dinilai memiliki arti penting dalam menggambarkan kehidupan beragama di Jakarta.

Pesan toleransi tersebut juga ditampilkan melalui sejumlah ornamen di sepanjang terowongan. Tidak hanya secara visual, simbol dari kedua agama juga dihadirkan melalui suara.

Nasaruddin menjelaskan pengunjung yang memasuki terowongan dari arah Katedral dapat mendengar suara lonceng gereja. Sementara dari arah Masjid Istiqlal, pengunjung dapat mendengar suara bedug yang menjadi salah satu tradisi dan simbol dalam Islam.

“Jika datang dari arah Katedral, kita dapat mendengar suara lonceng gereja. Sementara jika datang dari arah masjid, kita dapat mendengar suara bedug, yang merupakan salah satu tradisi dan simbol dalam Islam,” jelasnya.

BACA JUGA:  Prabowo Ajak Ulama dan Umara Bersatu Berantas Korupsi

Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo turut menilai kedekatan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta memiliki makna simbolis yang kuat.

Menurut Suharyo, keberadaan kedua rumah ibadah tersebut sejak awal telah merepresentasikan pesan toleransi dan nasionalisme.

Hadirnya Terowongan Silaturahim kemudian memperkuat makna tersebut melalui hubungan fisik antara dua rumah ibadah yang berbeda.

“Sejak awal, kedekatan kedua rumah ibadah ini memang memiliki makna simbolis yang kuat. Simbolisme tentang toleransi dan nasionalisme tersebut kemudian semakin lengkap dengan hadirnya Terowongan Silaturahim ini,” ucap Suharyo. ***