DEPOK, INDORAYATODAY.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok punya tiga strategi untuk mengerek indeks toleransi di tengah kemajemukan masyarakat.

Langkah itu dimulai dari internal pemerintahan hingga kehidupan warga di tingkat paling bawah.

Wali Kota Depok Supian Suri menegaskan toleransi menjadi modal penting untuk membangun Kota Depok.

Hal itu disampaikan Supian saat menjadi narasumber webinar Indeks Kota Toleran Setara Institute secara virtual, Rabu (2/9/2026).

Menurut Supian, visi Bersama Depok Maju tidak akan terwujud tanpa kehidupan masyarakat yang dilandasi toleransi.

“Sejak awal visi kami meyakini bahwa kita nggak mungkin bisa hidup, punya cita-cita, dan mewujudkan apa yang menjadi harapan bersama tanpa ada toleransi,” kata Supian.

Strategi pertama Pemkot Depok dilakukan melalui kebijakan internal pemerintahan.

Pemkot memberikan kesempatan kepada aparatur untuk menduduki jabatan tanpa melihat latar belakang agama.

Supian mencontohkan Kecamatan Sukmajaya yang kini dipimpin camat dari kelompok agama minoritas.

Langkah tersebut menjadi bukti bahwa prinsip keberagaman juga diterapkan di lingkungan birokrasi Pemkot Depok.

Strategi kedua menyasar langsung masyarakat melalui penguatan toleransi di tingkat RW.

Pemkot Depok mengalokasikan dana kelurahan sebesar Rp300 juta untuk setiap RW.

Sebagian anggaran itu dapat digunakan untuk menggelar kegiatan yang mengangkat keberagaman.

Salah satunya melalui wisata keberagaman yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Pak RW mengundang seluruh masyarakat, mengajak untuk satu event acara dengan anggaran APBD, sehingga terbangun kebersamaan dan toleransi,” jelas Supian.

Strategi ketiga diterapkan melalui aktivitas ruang publik, salah satunya Car Free Day (CFD).

CFD di Jalan Margonda Raya-Arief Rahman Hakim berlangsung pukul 06.00 hingga 09.00 WIB.

Waktu tersebut beririsan dengan aktivitas sebagian warga non-Muslim yang hendak beribadah.

BACA JUGA:  Pemkot Depok Rencanakan Restrukturisasi BKD demi Tingkatkan PAD

Kondisi itu mendorong warga untuk saling berbagi ruang dan akses di tengah aktivitas CFD.

Bagi Pemkot Depok, situasi tersebut menjadi contoh nyata bagaimana toleransi dibangun melalui kehidupan sehari-hari.

Pemkot juga menggandeng Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam menjaga kerukunan masyarakat.

Ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan budaya, suku, dan agama juga terus dibuka.

Upaya tersebut disebut mulai menunjukkan hasil.

Depok yang sebelumnya masuk 10 besar terbawah dalam indeks toleransi kini berada di peringkat 78.

Supian menargetkan ikhtiar membangun ekosistem toleransi tersebut terus diperkuat.

“Kami yakin Kota Depok bisa menjadi contoh terhadap kota/kabupaten yang lain. Mudah-mudahan ini menjadi ikhtiar yang bisa kita lakukan terus-menerus,” tandasnya.