INDORAYATODAY.COM – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin meresmikan Migrant Center sekaligus kelas pelatihan program SMK Go Global di Universitas Teknologi Bandung (UTB), Jawa Barat, Senin (12/10/2026).

Langkah ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi untuk mencetak tenaga kerja terampil, berdaya saing global, serta terlindungi secara terintegrasi.

“Penyiapan pekerja migran tidak cukup hanya berorientasi pada penempatan di luar negeri, tetapi harus dibangun melalui pelatihan, sertifikasi, penguasaan bahasa asing, serta pelindungan yang terintegrasi dari sebelum keberangkatan hingga kembali ke Tanah Air,” tegas Mukhtarudin.

Ia menambahkan, pembentukan Kementerian P2MI di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mengelola dan melindungi pekerja migran Indonesia secara menyeluruh.

Mukhtarudin menjelaskan, penguatan kompetensi calon pekerja migran Indonesia (CPMI) sangat krusial menyongsong bonus demografi 2045, di mana Indonesia diproyeksikan memiliki 207 juta penduduk usia produktif.

Di sisi lain, sejumlah negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Malaysia, hingga negara-negara Eropa dan Amerika tengah mengalami fenomena aging population (penuaan penduduk) yang memicu kelangkaan tenaga kerja.

“Kondisi ini menjadi peluang besar bagi Indonesia. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kesiapan kompetensi, penguasaan bahasa, kedisiplinan, dan sertifikasi internasional agar pekerja kita mampu beralih ke sektor medium hingga high-skilled,” jelasnya.

Rektor UTB Prof. Dr. Muchammad Naseer mengungkapkan, pihaknya siap mencetak 438 calon talenta global melalui berbagai jalur pelatihan.

Sebanyak 169 peserta mengikuti program SMK Go Global, 119 peserta jalur mandiri untuk penempatan Jepang, 50 peserta dukungan Pemkot Bandung, serta 100 peserta fasilitasi Pemkab Majalengka.

Naseer berharap adanya sinergi berlanjut antara Kementerian P2MI dan Kemendiktisaintek agar generasi muda dapat menjalani skema kuliah sambil bekerja di luar negeri.

BACA JUGA:  Depok Lepas 30 Siswa dan Mahasiswa Ikuti Program Pendidikan dan Magang ke Luar Negeri

“Kami ingin pemuda yang belum sarjana tetap memperoleh kesempatan kuliah sambil bekerja di luar negeri. Pekerjaan dapat, gelar sarjana dapat, penghasilan dapat, dan mutu pendidikan juga meningkat,” ujar Prof. Naseer.

Ia juga mengingatkan kontribusi besar pekerja migran yang menyumbang remitansi hingga Rp 288 triliun per tahun bagi perekonomian nasional.

Kehadiran Migrant Center di UTB dirancang sebagai pusat layanan terpadu (one-stop service). Fasilitas ini menyediakan informasi peluang kerja internasional, pemetaan kompetensi, pelatihan bahasa asing, sertifikasi, hingga pendampingan karier dan evaluasi berkala bagi para pekerja selama berada di luar negeri.