INDORAYATODAY.COM – Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik kritis pascaserangan terkoordinasi Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Teheran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Menanggapi balasan rudal dari Iran, sejumlah negara Barat dan blok Arab menyatakan kesiapan untuk memperkuat koalisi militer guna membela kedaulatan kawasan.
Serangan balasan dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran yang menyasar 27 pangkalan militer AS di negara-negara Arab telah memicu gelombang dukungan terhadap AS dan Israel.
Berikut adalah deretan negara yang menyatakan kesiapan membantu atau mengambil langkah militer terhadap Iran:
Inggris: Perdana Menteri Keir Starmer telah mengonfirmasi izin penggunaan pangkalan militer Inggris di Timur Tengah bagi pasukan AS. Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan agresi Iran lebih lanjut.
Prancis: Menteri Luar Negeri Jean-Noel Barrot menegaskan komitmen Paris untuk membela Yordania dan negara-negara Teluk dari serangan drone serta rudal Teheran.
Solidaritas Blok Arab dan Teluk Ketegangan meningkat drastis setelah wilayah Riyadh (Arab Saudi) dan beberapa negara tetangga turut dihantam rudal Iran. Hal ini memicu respons keras dari negara-negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC):
Arab Saudi dan UEA: Kedua negara mengecam keras pelanggaran kedaulatan oleh Iran dan menegaskan hak sah untuk melakukan aksi balasan demi keamanan nasional.
Qatar, Kuwait dan Bahrain: Ketiga negara menuding Iran mengancam keselamatan warga sipil dan mengacu pada Pasal 51 Piagam PBB mengenai hak membela diri. Bahrain bahkan melaporkan telah berhasil mencegat rudal Iran yang diarahkan ke aset strategis di wilayahnya.
Mekanisme Pertahanan Bersama “NATO Arab” Melalui pernyataan bersama, AS dan negara-negara Teluk—termasuk Irak dan Yordania—menyatakan kesatuan sikap menghadapi ancaman Iran. Koordinasi ini diperkuat melalui pakta pertahanan GCC yang mengadopsi konsep mirip NATO, di mana serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota koalisi.
Hingga saat ini, pergerakan militer di Laut Merah dan Teluk Persia terus dipantau secara ketat oleh komunitas internasional guna mengantisipasi pecahnya perang regional yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan