INDORAYATODAY.COM – Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa industri perfilman memiliki peran strategis sebagai instrumen soft power untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di kancah internasional. Film dinilai sebagai medium efektif dalam merepresentasikan jati diri bangsa di tengah peradaban dunia.

Hal tersebut disampaikan Fadli Zon saat membuka Peringatan Hari Film Nasional (HFN) ke-76 di Studio Screen X, CGV Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (1/4/2026). Momentum ini ditandai dengan agenda nonton bareng film klasik restorasi Darah dan Doa karya sutradara legendaris Usmar Ismail.

Dalam arahannya, Fadli Zon menyebutkan bahwa film merupakan platform utama yang mengintegrasikan berbagai ekspresi budaya, mulai dari seni peran, musik, tari, sastra, hingga kuliner. Keberagaman 1.300 kelompok etnis dan ratusan bahasa daerah di Indonesia menjadi modal sosial sekaligus bahan baku industri kreatif yang tidak akan pernah habis dieksplorasi.

Guna memaksimalkan potensi tersebut, Kementerian Kebudayaan fokus pada penguatan ekosistem perfilman nasional melalui beberapa langkah strategis. Langkah-langkah tersebut meliputi pengembangan manajemen talenta nasional untuk meningkatkan kompetensi SDM, kemudahan akses dukungan pendanaan bagi para sineas, hingga fasilitasi internasional untuk mendukung partisipasi karya anak bangsa di berbagai festival film bergengsi dunia. Menbud menekankan pentingnya membangun ekosistem yang kuat melalui kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan para pelaku industri film.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Naswardi, mengapresiasi langkah Kementerian Kebudayaan dalam merestorasi film Darah dan Doa produksi tahun 1950. Restorasi ini dinilai sangat krusial agar karya klasik yang menjadi tonggak sejarah perfilman nasional tetap dapat dinikmati oleh generasi saat ini. Selain itu, LSF terus mendorong gerakan budaya sensor mandiri agar masyarakat terbiasa menonton tayangan yang sesuai dengan klasifikasi usia.

BACA JUGA:  Hormati Jasa Pahlawan, Menbud Luncurkan Prangko Para Pendiri Bangsa

Senada dengan hal itu, sutradara Joko Anwar yang turut hadir menekankan bahwa kekuatan film Indonesia terletak pada otentisitas cerita. Ia mengingatkan para sineas untuk senantiasa merujuk pada sejarah sebagai pijakan untuk melangkah maju. Menurutnya, kekuatan bercerita itulah yang membawa film Indonesia memiliki posisi tawar di peta perfilman dunia, terutama dengan potensi pasar domestik yang sangat besar.

Peringatan HFN 2026 ini juga dihadiri oleh Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, perwakilan keluarga besar Usmar Ismail, serta komunitas film dari berbagai universitas. Melalui momentum ini, pemerintah berharap perfilman Indonesia tidak hanya tumbuh secara komersial, tetapi juga menjadi medium strategis dalam memperkenalkan identitas bangsa ke seluruh penjuru dunia.