INDORAYATODAY.COM – Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan tengah menyusun langkah strategis untuk mendaftarkan seni ukir Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di UNESCO.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan, pihaknya sedang mencari celah agar proses birokrasi di UNESCO tidak menghambat pengakuan karya luhur bangsa tersebut.

Fadli menjelaskan, tantangan utama muncul karena pendaftaran nominasi tunggal (single nomination) di UNESCO dibatasi hanya satu negara setiap dua tahun sekali. Oleh karena itu, opsi percepatan melalui pendekatan pelestarian kini tengah dijajaki.

“Kita akan cari jalan, mungkin pendekatannya melalui safeguarding (perlindungan). Pelestarian dan pemeliharaan warisan budaya menjadi opsi agar proses pendaftaran seni ukir ini bisa lebih cepat diakui UNESCO,” kata Fadli Zon usai membuka pameran “Tatah” di Museum Nasional, Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Selain jalur mandiri, Fadli menyebut adanya kemungkinan melakukan joint nomination atau nominasi gabungan. Skema ini memungkinkan Indonesia bekerja sama dengan negara-negara lain yang memiliki tradisi seni ukir serupa.

“Kita juga jajaki kerja sama dengan negara-negara yang mempunyai kemiripan atau kesamaan tradisi dalam melestarikan seni ukir. Ini bisa menjadi jalur extension yang memungkinkan,” tambahnya.

Langkah kementerian ini sejalan dengan ambisi Pemerintah Kabupaten Jepara yang gencar memperjuangkan seni ukir khas daerahnya ke kancah dunia. Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan bahwa ukiran Jepara bukan sekadar kerajinan, melainkan bukti identitas dan warisan leluhur yang harus dipatenkan secara internasional.

Dalam upayanya, Pemkab Jepara juga telah menggandeng Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat serta pakar yang memiliki pengalaman langsung dengan birokrasi UNESCO untuk memastikan dokumen dan naskah pengajuan memenuhi standar global.

Meski negara Bosnia dan Herzegovina sudah lebih dulu mencatatkan Konjic woodcarving pada tahun 2017, Pemerintah Indonesia optimistis kekhasan dan filosofi mendalam dari seni ukir nusantara, khususnya Jepara, memiliki nilai universal yang kuat untuk diakui dunia.

BACA JUGA:  43 Cagar Budaya Rusak Akibat Banjir-Longsor Sumatera, Aceh Paling Banyak Terdampak