INDORAYATODAY.COM – Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menegaskan bahwa tradisi berbuka puasa atau iftar di Indonesia bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan peristiwa budaya yang sarat makna. Menurutnya, keragaman cara masyarakat di berbagai pelosok negeri dalam menyambut waktu berbuka mencerminkan kekayaan identitas Nusantara.

Fadli menggarisbawahi bahwa signifikansi tradisi ini telah diakui secara global. Saat ini, iftar tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO. Pengakuan tersebut mempertegas bahwa berbuka puasa memiliki nilai universal yang melampaui batas-batas tradisi keagamaan semata.

“Iftar merupakan peristiwa budaya dengan ragam tradisi yang sangat khas. Setiap wilayah di Indonesia memiliki cara tersendiri yang mencerminkan kekayaan budaya kita,” ujar Fadli Zon dalam keterangannya saat menghadiri silaturahmi ‘Marhaban ya Ramadan’ di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Rabu (18/2/2026).

Menbud menyoroti bahwa selama bulan Ramadan, terjadi perpaduan harmonis antara nilai spiritual dan ekspresi budaya. Hal ini terlihat jelas dari keberagaman kuliner takjil dan hidangan khas daerah yang muncul sebagai bentuk kreativitas masyarakat.

Lebih lanjut, ia memandang Ramadan sebagai momentum untuk melakukan “reset” kehidupan. Proses penyucian diri selama 30 hari yang dibarengi dengan kewajiban zakat dinilai sebagai wujud nyata solidaritas sosial.

“Tradisi ini diakhiri dengan saling memaafkan pada Hari Raya Idulfitri, yang mempererat persaudaraan dan harmoni di tengah masyarakat,” tambahnya. Atas nama pribadi dan kementerian, Fadli turut mengucapkan selamat menyambut Ramadan 1447 Hijriah bagi seluruh umat Islam.

Senada dengan Menbud, Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan, Bambang Wibawarta, memaknai kehadiran bulan suci sebagai sarana memperkuat kebersamaan. Agenda “munggahan” yang digelar kementerian menjadi simbol rasa syukur sekaligus upaya mempererat silaturahim antarpegawai.

“Alhamdulillah, momentum ini menjadi ikhtiar kita untuk membersihkan hati dan memperkuat ukhuwah menjelang ibadah di bulan suci,” kata Bambang.

BACA JUGA:  Menbud Angkat Banyak Film Pahlawan, Terdekat Pangeran Diponegoro dengan Sentuhan Modern