INDORAYATODAY.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mempercepat penurunan sekaligus mencegah munculnya kasus stunting baru di wilayahnya. Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar Pemkot Bogor dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul menuju Generasi Emas 2045.
Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, menegaskan bahwa penanganan gangguan pertumbuhan pada anak ini tidak bisa hanya bertumpu pada anggaran pemerintah. Diperlukan sinergi dan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk sektor swasta dan yayasan sosial.
Hal tersebut disampaikan Jenal saat menyerahkan penghargaan kepada Yayasan Harapan Bangsa Mandiri (HBLM) dalam agenda konvergensi stunting bertema “Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting” di GSJA Betlehem, Jalan Suryakencana, Kelurahan Babakan Pasar, Selasa (30/6/2026).
“Yayasan ini secara konsisten setiap bulan memberikan bantuan kepada balita dan anak-anak di sekitar kelurahan. Ini menjadi ikhtiar dan syiar yang kuat bahwa penanganan stunting di Kota Bogor dilakukan secara serius dan bersama-sama,” ujar Jenal Mutaqin.
Guna meningkatkan transparansi dan akuntabilitas bagi para donatur yang ikut serta dalam program ini, Pemkot Bogor mengoptimalkan pemanfaatan teknologi melalui aplikasi Besti (Bebas Stunting).
Melalui platform digital tersebut, para donatur maupun pihak yayasan dapat memantau langsung perkembangan intervensi anak asuh mereka secara real-time setiap bulan melalui smartphone. Data yang disajikan mencakup penambahan berat badan, status gizi, lingkar kepala, hingga tinggi badan anak.
“Ruang transparansi ini kita ciptakan agar para donatur mengetahui bahwa bantuan yang mereka salurkan betul-betul sampai, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata bagi tumbuh kembang anak,” tambah Jenal.
Berdasarkan data rekonsiliasi periode Januari hingga Juni 2026, Pemkot Bogor mencatat progres positif dengan kelulusan 512 balita dari status stunting.
Menghadapi Bulan Penimbangan Balita (BPB) pada Agustus mendatang, fokus intervensi akan digeser pada aspek pencegahan demi merealisasikan target Zero New Stunting atau tidak adanya kasus baru. Jenal mengingatkan, keberhasilan program ini sangat dipengaruhi oleh faktor di luar intervensi gizi langsung.
“Ini bukan sekadar melihat kondisi fisik seperti tinggi dan berat badan yang ideal, tetapi tentang masa depan kemampuan SDM anak-anak kita. Selain pemenuhan gizi seimbang, sanitasi lingkungan, dan akses air bersih, faktor penentu dengan indikator tertinggi sebenarnya ada pada pola asuh orang tua,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan