INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap dugaan penyebab insiden keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua berasal dari pelanggaran prosedur memasak oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, hasil evaluasi sementara menunjukkan makanan dimasak terlalu dini dibandingkan waktu penyajian kepada penerima manfaat. Kondisi tersebut dinilai tidak sesuai dengan standar operasional yang telah ditetapkan.

Menurut Sudaryono, pada kasus di Papua, proses memasak dimulai sekitar pukul 19.00 hingga 19.30 pada malam sebelumnya, sedangkan makanan baru disajikan kepada siswa sekitar pukul 11.00 keesokan harinya.

“Jadi memang memulai masaknya terlalu cepat, kalau enggak salah pukul 19.00 atau 19.30 di hari sebelumnya untuk diberi makan pada hari berikutnya di pukul 11.00, jadi itu sudah melanggar,” kata Sudaryono dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis.

Ia menyebut pelanggaran serupa juga ditemukan di Semarang, Jawa Tengah. Berdasarkan hasil evaluasi, proses memasak di daerah tersebut dimulai sekitar pukul 21.00 pada malam sebelumnya.

Sudaryono menilai persoalan tersebut berkaitan dengan kedisiplinan pelaksana di lapangan. Karena itu, BGN tengah menyusun mekanisme pengawasan agar pelanggaran serupa tidak kembali terjadi.

Sudaryono menegaskan BGN tidak akan menoleransi apabila ditemukan unsur kesengajaan, sabotase, atau pelanggaran lain yang mengarah pada tindak pidana.

Menurut dia, setiap dugaan pelanggaran yang memenuhi unsur hukum akan diserahkan kepada aparat penegak hukum untuk diproses sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kalau memang ada unsur kesengajaan, sabotase, dan lain sebagainya, tentu kita serahkan kepada kepolisian. Kalau salah, ngapain dibela,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam setiap penanganan kasus.

BACA JUGA:  Dukung Pasokan Pangan Program MBG, Polres Metro Bekasi Tebar 10.000 Benih Lele

Sudaryono juga mengungkapkan adanya kasus insiden keamanan pangan yang terjadi setelah makanan MBG dibawa pulang oleh penerima manfaat untuk dikonsumsi bersama keluarga.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi BGN dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keamanan pangan.

“Ini bagian dari pekerjaan rumah kami, bagaimana mengedukasi agar masyarakat memahami pentingnya keamanan pangan, termasuk makanan yang seharusnya dikonsumsi sesuai waktu penyajiannya,” katanya.

Sebelumnya, sejumlah siswa di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, Papua, diduga mengalami insiden keamanan pangan setelah mengonsumsi makanan dari Program MBG pada Rabu (5/8/2026). Delapan siswa sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Jayapura dan dilaporkan berangsur membaik, bahkan satu di antaranya telah diizinkan pulang.