INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Mantan Menteri Pertahanan AS Leon Panetta menilai perang dengan Iran berpotensi terus berlangsung hingga enam bulan ke depan tanpa kesepakatan penyelesaian.

Panetta melihat Washington dan Teheran belum memiliki jalan keluar yang jelas untuk mengakhiri konflik. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat membuat perang berkembang menjadi keterlibatan militer AS yang berkepanjangan di Timur Tengah.

Ia membandingkan potensi konflik berkepanjangan itu dengan pengalaman Amerika Serikat dalam perang di Irak dan Afghanistan. Menurut Panetta, kedua pihak kini berada pada posisi yang membuat pilihan untuk menghentikan pertempuran semakin terbatas.

“Skenario yang paling mungkin adalah perang ini akan berlanjut selama enam bulan lagi tanpa terselesaikan,” kata Panetta, dikutip dari Turkiye Today, Senin (7/9/2026).

Panetta juga menilai Presiden AS Donald Trump menghadapi sejumlah pilihan sulit. Menurut dia, langkah yang telah ditempuh pemerintahan Trump membuat ruang gerak Washington dalam menentukan arah perang menjadi semakin terbatas.

Ada tiga kemungkinan yang menurut Panetta dapat ditempuh pemerintah AS. Pilihan pertama adalah menghentikan keterlibatan militer dan mengakui bahwa kampanye yang dilakukan telah gagal. Namun, Panetta menilai kemungkinan Trump mengambil langkah tersebut kecil.

Pilihan kedua adalah membiarkan kebuntuan berlanjut. Dalam skenario ini, AS dan Iran dapat terus melakukan serangan secara berkala sembari berusaha mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih besar.

Menurut Panetta, kondisi tersebut justru berisiko menciptakan konflik berkepanjangan di Timur Tengah, situasi yang sebenarnya ingin dihindari berbagai pihak.

Pilihan ketiga, menurut Panetta, adalah AS mengambil kendali atas Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai dapat menghilangkan salah satu sumber pengaruh terbesar Iran, yakni kemampuan untuk menutup atau mengganggu jalur perdagangan global.

BACA JUGA:  Frustrasi Hadapi Iran, Trump Pertimbangkan Kembali Gempur Teheran

Panetta menilai kemenangan AS membutuhkan perubahan besar dalam strategi Washington. Ia menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz harus menjadi salah satu tujuan utama.

Ia juga mengkritik pernyataan Trump yang berulang kali menyebut kesepakatan untuk mengakhiri konflik sudah semakin dekat serta Selat Hormuz telah terbuka. Panetta menilai pernyataan tersebut justru berdampak terhadap kredibilitas presiden.

Ketegangan antara kedua negara meningkat sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari. Teheran kemudian merespons dengan melancarkan serangan rudal dan pesawat tak berawak terhadap kepentingan AS di berbagai wilayah.

Pada Juni, Iran dan AS sempat menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Namun, kedua pihak kemudian saling menuding tidak menjalankan komitmen yang tercantum dalam memorandum tersebut.

Di tengah perselisihan itu, ketegangan militer tetap berlangsung. Persoalan sanksi serta navigasi di Selat Hormuz turut menjadi bagian dari sengketa yang belum terselesaikan.

Panetta pun memperingatkan bahwa tanpa perubahan pendekatan dan jalan keluar yang jelas, kebuntuan tersebut berpotensi membuat perang AS-Iran berlangsung lebih lama.