INDORAYATODAY.COM, DEPOK — Nyeri dada yang tidak biasa, sesak napas mendadak, hingga keringat dingin sebaiknya tidak disepelekan karena dapat menjadi tanda awal serangan jantung.
Pakar Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) sekaligus Ketua Klaster Riset Acute and Critical Care, Masfuri, mengatakan sebagian besar serangan jantung sebenarnya didahului gejala peringatan.
Namun, gejala tersebut kerap disalahartikan sebagai gangguan kesehatan lain sehingga penanganan medis terlambat dilakukan.
Gejala khas serangan jantung antara lain nyeri dada sebelah kiri seperti tertindih beban berat. Tanda lainnya dapat berupa rasa terbakar di ulu hati yang menjalar ke rahang, bahu, atau lengan.
Keringat dingin dan sesak napas yang muncul secara tiba-tiba juga perlu diwaspadai.
Menurut Masfuri, sejumlah gejala tersebut kerap dianggap sebagai masuk angin, gangguan lambung, atau kelelahan akibat aktivitas sehari-hari.
“Sebagian besar pasien sebenarnya telah mengalami gejala peringatan sebelum serangan jantung terjadi,” kata Masfuri dalam keterangannya dikutip, Kamis (1/10/2026).
“Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang jaringan jantung dapat diselamatkan,” lanjutnya.
Masfuri menjelaskan, penanganan serangan jantung mengenal periode emas atau golden hour, yakni sekitar 90 hingga 120 menit pertama sejak gejala muncul.
Pada periode tersebut, tindakan medis yang cepat dapat membantu mencegah kerusakan permanen pada otot jantung sekaligus meningkatkan peluang keselamatan pasien.
Ketika menemukan seseorang mengalami gejala serangan jantung, masyarakat dianjurkan segera menghentikan aktivitas korban dan memosisikannya duduk bersandar.
Setelah itu, segera hubungi layanan gawat darurat atau bawa korban menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Apabila korban kehilangan kesadaran dan tidak bernapas normal, pertolongan pertama perlu segera dilakukan.
Masfuri menyarankan masyarakat melakukan resusitasi jantung paru (RJP) atau Hands-Only Cardiopulmonary Resuscitation (CPR).
Caranya dengan memberikan tekanan pada bagian tengah dada sebanyak 100–120 kali per menit.
Jika tersedia, Automated External Defibrillator (AED) dapat digunakan dengan mengikuti petunjuk suara pada perangkat tersebut.
Peringatan tersebut disampaikan bertepatan dengan momentum Hari Jantung Sedunia yang diperingati setiap 29 September.
Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian utama secara global. Data yang dicantumkan UI menyebut hampir 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular di dunia pada 2022.
Sementara di Indonesia, data World Heart Federation yang dikutip UI mencatat sekitar 695.166 kematian akibat penyakit kardiovaskular pada 2024.

Tinggalkan Balasan