INDORAYATODAY.COM – Sekitar 50.000 bayi di Indonesia lahir dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB) setiap tahunnya. Kerap kali, kondisi ini tidak menunjukkan gejala langsung saat bayi dilahirkan.

Konsultan Jantung Anak BraveHeart Cardiovascular Center Brawijaya Hospital Saharjo, Dr dr Anisa Rahmadhany SpA Subsp Kardio mengingatkan orang tua untuk lebih peka terhadap tanda-tanda awal PJB yang sering terabaikan.

“Bayi yang mengalami PJB kerap terlihat cepat lelah saat menyusu, bernapas lebih cepat, berkeringat berlebihan, atau kesulitan menaikkan berat badan,” kata dr Anisa.

Mitos Bayi Menangis Kuat Bebas PJB

Menurut dr Anisa, anggapan bahwa bayi yang lahir menangis kuat dan memiliki skor Apgar normal pasti bebas dari PJB adalah keliru. Skor Apgar hanya menilai kondisi umum saat lahir, bukan struktur organ jantung.

Guna mendeteksi PJB kritis sejak dini, bayi baru lahir perlu menjalani skrining khusus, seperti pengukuran saturasi oksigen menggunakan pulse oximeter di tangan dan kaki. Jika hasil skrining mencurigakan, pemeriksaan lanjutan berupa ekokardiografi (USG jantung) akan dilakukan.

Pentingnya Deteksi Dini

Penanganan PJB bervariasi sesuai tingkat keparahannya, mulai dari pemantauan berkala, pemberian obat, kateterisasi, hingga operasi. Dengan kemajuan medis saat ini, deteksi dini memberikan peluang besar bagi anak untuk tumbuh optimal.

Orang tua diimbau segera membawa bayi ke fasilitas kesehatan jika menemukan tanda bahaya, seperti:

Napas cepat yang menetap atau sesak. Kebiruan pada bibir dan lidah. Berat badan yang tak kunjung naik signifikan.

BACA JUGA:  Warga Depok Temukan Janin di Kali Saat Bersih-Bersih Lingkungan