INDORAYATODAY.COM – Tepat satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2025, fokus kebijakan diletakkan pada program-program kerakyatan berbasis kesejahteraan yang menjadi pembeda dari era sebelumnya.

Setidaknya terdapat lima program unggulan yang mendapat sorotan publik dalam setahun terakhir.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menyoroti bahwa kebijakan tersebut merupakan hasil perpaduan pengetahuan, pengalaman, dan kegelisahan Presiden Prabowo terhadap kondisi masyarakat.

Lima Program Kerakyatan Utama:

Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Program ini lahir dari keprihatinan Presiden Prabowo atas masalah kelaparan, stunting, dan gizi buruk di tengah kekayaan alam Indonesia. Gagasan ini sejalan dengan ‘Revolusi Putih’ yang pernah ia canangkan sejak mendirikan Partai Gerindra pada 2008.

Penghapusan Utang Macet Petani, Nelayan, dan UMKM: Program baru ini diimplementasikan melalui restrukturisasi kredit, bertujuan membebaskan petani, nelayan, dan pelaku UMKM dari catatan buruk bank agar mereka kembali memiliki akses pinjaman. Ini sejalan dengan visi kesejahteraan bagi sektor maritim dan agraris.

Program Kesehatan Gratis: Langkah antisipatif pemerintah berupa pemeriksaan riwayat kesehatan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah untuk mendeteksi dini potensi penyakit kronis dan mematikan.

Program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih): Pembentukan 80.000 koperasi desa ini bertujuan mendorong ekonomi kerakyatan dan mendukung rantai pasok pangan. Gagasan ini merefleksikan ‘Soemitronomics’ dan penjabaran Pasal 33 Ayat 1 UUD 1945 tentang perekonomian disusun atas asas kekeluargaan.

Program Sekolah Rakyat: Dalam setahun terakhir, telah dibangun 165 dari proyeksi 500 sekolah yang ditargetkan rampung pada 2029. Program ini diharapkan mampu memeratakan akses pendidikan dan memutus rantai kemiskinan.

Melipatgandakan Kesejahteraan

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, meskipun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia masuk kategori tinggi, masih terdapat kesenjangan antara wilayah, dengan angka kemiskinan mencapai 24,06 juta orang, stunting 19,8 persen, dan 4,2 juta anak putus sekolah usia 6-18 tahun.

BACA JUGA:  Tips agar Tagihan Air Tidak Membengkak, Ini Imbauan Resmi dari Tirta Asasta Depok

“Permasalahan tingginya angka kemiskinan, banyaknya anak yang putus sekolah hingga masalah stunting/gizi buruk menjadi alasan kuat bagi Presiden Prabowo dalam satu tahun terakhir fokus pada program-program kesejahteraan yang menyentuh langsung masyarakat,” ujar Sugiat Santoso.

Presiden Prabowo mengambil langkah efisiensi anggaran sebagai strategi untuk mengalokasikan anggaran secara tepat sasaran dan berdaya guna. Sugiat mengakui adanya kritik publik, namun hal tersebut menjadi masukan sekaligus tantangan bagi pelaksana teknis program.

Investasi pada pembangunan manusia yang dilakukan pemerintah—melalui MBG, Sekolah Rakyat, dan penghapusan utang—disebut sebagai langkah berani dan konsisten.

Memasuki tahun kedua pemerintahan, program-program lain seperti perumahan murah, hilirisasi, dan industrialisasi akan dijalankan secara masif, dengan cita-cita luhur “melipatgandakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.”