INDORAYATODAY.COM, TEGAL – Ketua MPR RI Ahmad Muzani meninjau kondisi Objek Wisata Guci di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pascabanjir bandang yang terjadi pada Desember 2025. Ia menyoroti dugaan aktivitas penebangan hutan di kawasan hulu yang dinilai memperparah dampak bencana.

Menurut Muzani, banjir bandang dipicu curah hujan tinggi yang menyebabkan aliran sungai meluap. Namun, ia menduga adanya faktor kerusakan lingkungan di wilayah atas yang memperbesar dampak.

“Ini sebenarnya sudah hulu. Tapi di atasnya terjadi hujan yang lebih besar, kemudian sepertinya ada penebangan,” ujarnya saat meninjau lokasi, Senin (16/2/2026).

Ia mendorong langkah konkret pemulihan lingkungan melalui reboisasi di lereng Gunung Slamet, terutama pada area resapan air. Pemerintah Kabupaten Tegal disebut telah berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan dan Perhutani untuk melakukan penanaman kembali pohon.

Salah satu fasilitas yang terdampak parah adalah Pancuran 13, kolam air panas yang menjadi ikon wisata Guci dan hilang akibat tergerus banjir.

Selain pemulihan lingkungan, Muzani menyampaikan aspirasi masyarakat terkait penataan ulang kawasan wisata. Warga meminta perbaikan jembatan yang rusak serta penggratisan tiket masuk Pancuran 13.

Selama ini, area Pancuran 13 yang berada dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) di bawah pengelolaan BKSDA dikenakan tarif Rp 27.000. Muzani berharap pemerintah dan pengelola dapat mempertimbangkan penggratisan akses tersebut.

“Kita ingin agar objek vital ini, air panas Pancuran 13, bisa digratiskan agar dinikmati masyarakat luas,” katanya.

Muzani menekankan pentingnya pemulihan lingkungan melalui reboisasi untuk mencegah bencana serupa, sekaligus mendorong penataan ulang wisata Guci dan penggratisan akses Pancuran 13 agar manfaatnya dirasakan masyarakat lebih luas.

BACA JUGA:  Bupati Bogor Rudy Susmanto Fokus Tuntaskan Infrastruktur di Wilayah Barat