DEPOK, INDORAYA TODAY – Tradisi Motong Kebo Andil kembali dihidupkan dalam rangkaian Lebaran Depok 2026. Tradisi khas masyarakat Betawi ini menjadi simbol kuat kebersamaan sekaligus pengingat nilai gotong royong yang mulai tergerus zaman.
Motong Kebo Andil merupakan kebiasaan warga Betawi menjelang Hari Raya Idul Fitri, tepatnya dua hari sebelum lebaran. Dalam tradisi ini, masyarakat membeli kerbau secara patungan, lalu dagingnya dibagikan secara merata kepada seluruh peserta andil.
Tradisi tersebut bukan sekadar ritual tahunan, melainkan memiliki nilai historis yang dalam. Di masa lalu, ketika kondisi ekonomi masyarakat terbatas, momen andilan menjadi kesempatan langka bagi warga untuk menikmati olahan daging.
Ketua Panitia Lebaran Depok 2026, Hamzah, mengatakan Motong Kebo Andil mengandung filosofi kebersamaan dan solidaritas sosial yang kuat di tengah masyarakat.
“Tradisi ini mengajarkan hidup rukun, gotong royong, dan berbagi. Semua ikut berkontribusi, lalu hasilnya dinikmati bersama,” ujar Hamzah, Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan, menghidupkan kembali tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya Betawi, khususnya di Depok yang memiliki akar sejarah kuat dengan budaya tersebut.
“Motong Kebo Andil bukan hanya soal memotong kerbau, tetapi bagaimana mempererat ikatan sosial masyarakat dan mengenalkan nilai-nilai itu kepada generasi muda,” ucapnya.
Tradisi Motong Kebo Andil sendiri sempat nyaris hilang seiring perkembangan zaman. Karena itu, Komunitas Orang-Orang Depok (KOOD) berinisiatif mengangkat kembali tradisi ini sebagai bagian dari rangkaian Lebaran Depok setiap tahunnya.
Lebaran Depok 2026 dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 5 Mei hingga 9 Mei 2026. Sejumlah kegiatan budaya disiapkan untuk memeriahkan perayaan tersebut.
Pembukaan acara akan digelar serentak di tiga wilayah, yakni Tapos, Cipayung, dan Sawangan. Selanjutnya, rangkaian kegiatan akan dipusatkan di kawasan Alun-alun Grand Depok City (GDC).
Melalui pengangkatan kembali tradisi Motong Kebo Andil, Lebaran Depok diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang edukasi budaya yang memperkuat jati diri masyarakat lokal.

Tinggalkan Balasan