INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia menunjukkan penguatan signifikan pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melonjak 7,57 persen ke level 5.746, sementara nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat.

Pemerintah menilai penguatan serentak di pasar saham dan pasar valuta asing tersebut menjadi sinyal mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berhasil ditutup di zona hijau setelah mengalami kenaikan signifikan sepanjang perdagangan.

Pada saat yang sama, rupiah di pasar spot menguat ke posisi Rp18.050 per dolar AS. Mata uang Garuda tercatat terapresiasi 120 poin atau sekitar 0,66 persen dibandingkan posisi pembukaan yang berada di level Rp18.170 per dolar AS.

Pemerintah menyebut penguatan tersebut tidak terlepas dari langkah koordinatif yang dilakukan bersama Bank Indonesia dan sejumlah otoritas terkait dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan daya tarik instrumen investasi berbasis rupiah melalui penguatan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendorong masuknya modal asing ke dalam negeri sekaligus menjaga pasokan valuta asing di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global.

Bank Indonesia sebelumnya juga menaikkan suku bunga SRBI pada berbagai tenor. Selain itu, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan pada 9 Juni 2026, BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Suku bunga Deposit Facility turut dinaikkan menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.

Menurut Bank Indonesia, kebijakan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027.

BACA JUGA:  Bank Indonesia Pastikan Cadangan Devisa Masih Kuat untuk Jaga Rupiah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

“Tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah,” ujar Purbaya.

Sementara itu, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochammad Firman Hidayat menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang kuat meskipun menghadapi gejolak geopolitik global.

“Fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang sangat baik, bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Berbagai indikator makro menunjukkan bahwa perekonomian nasional tetap solid dan berada jauh dari potensi krisis,” kata Firman.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan. Selain itu, tingkat inflasi nasional juga masih terkendali di angka 3,08 persen pada Mei 2026.

Menurutnya, sejumlah indikator tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah tantangan global yang belum sepenuhnya mereda.