INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mempercepat penyelesaian persoalan sampah melalui kombinasi pemanfaatan teknologi modern dan penguatan edukasi masyarakat agar pengelolaan sampah berjalan lebih berkelanjutan.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman mengatakan penanganan sampah menjadi persoalan yang hampir dihadapi seluruh kota di Jawa Barat, termasuk Kota Depok.
Karena itu, pemerintah daerah terus mengembangkan berbagai teknologi pengolahan sampah, mulai dari Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), Refuse Derived Fuel (RDF), hingga teknologi insinerator di sejumlah daerah. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempercepat penyelesaian persoalan sampah di Jawa Barat.
“Persoalan klasiknya ada pada penanganan sampah. Saat ini kami terus mengupayakan berbagai solusi melalui teknologi waste to energy, pemilahan sampah menjadi energi listrik,” ujar Herman usai menghadiri pelantikan Pengurus Mabicab, Pengurus Kwarcab, dan Lembaga Pemeriksa Keuangan Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Depok di Balai Kota Depok, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan pembangunan PSEL terus berjalan di sejumlah wilayah. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga telah memulai pengembangan fasilitas PSEL regional di Legok Nangka, sementara proyek serupa juga dipersiapkan untuk kawasan Bogor-Depok dan Bekasi guna memperkuat sistem pengelolaan sampah berbasis teknologi.
Selain PSEL, sejumlah pemerintah kabupaten dan kota juga mengembangkan teknologi RDF maupun insinerator sesuai karakteristik wilayah masing-masing sebagai solusi mengurangi timbulan sampah.
Meski demikian, Herman menegaskan teknologi bukan satu-satunya jawaban dalam mengatasi persoalan sampah. Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat sejak tingkat rumah tangga tetap menjadi faktor utama keberhasilan pengelolaan sampah.
Ia menilai masyarakat harus membiasakan diri mengurangi timbulan sampah, memanfaatkan kembali barang yang masih dapat digunakan, serta mendaur ulang sampah sebelum berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Dalam konteks tersebut, Herman mendorong Gerakan Pramuka mengambil peran aktif memberikan edukasi kepada masyarakat hingga tingkat lingkungan RT dan RW.
“Yang tidak kalah penting adalah bagaimana penanganan sampah dimulai dari rumah tangga dengan mengurangi sampah, memanfaatkan sampah, dan mendaur ulang sampah. Di level lingkungan inilah Pramuka bisa memberikan kontribusi melalui edukasi kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Herman, keterlibatan anggota Pramuka juga menjadi sarana membangun kepemimpinan, kepedulian sosial, dan keterampilan generasi muda melalui aksi nyata di tengah masyarakat.
Herman berharap sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan Gerakan Pramuka dapat mempercepat penyelesaian persoalan sampah di Jawa Barat. Ia optimistis kombinasi pemanfaatan teknologi modern dengan perubahan perilaku masyarakat akan menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, sekaligus mendukung terwujudnya lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan