INDORAYATODAY.COM, JAKARTA – Pemerintah menyiapkan kapal induk hibah Angkatan Laut Italia sebagai bagian dari penguatan respons terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana alam di Indonesia.

Kapal yang nantinya diberi nama KRI Gajah Mada itu masih dalam perjalanan dari Italia menuju Indonesia dan diperkirakan tiba pada 15–20 September 2026.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan kapal tersebut akan dimodifikasi sehingga tidak hanya berfungsi sebagai kapal induk, tetapi menjadi pangkalan bergerak bagi helikopter dan drone.

“Alhamdulillah sebentar lagi kapal induk dari Italia akan masuk ke jajaran TNI Angkatan Laut, itu kita akan rubah menjadi kapal induk helikopter. Untuk drone,” kata Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/9/2026).

Dalam Rapat Terbatas Perkembangan Penanganan Bencana Alam, Prabowo menjelaskan kapal tersebut dirancang untuk menampung hingga 10 helikopter kelas menengah.

Helikopter seperti Black Hawk dan Mi-17 disebut memiliki kemampuan membawa air dalam jumlah beberapa ton untuk membantu operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

“Dan itu kemampuannya untuk bisa menampung 10 helikopter kelas menengah, saya kira sejenis Black Hawk, Mi-17. Rata-rata bisa angkut 4-5 ton air,” ujar Prabowo.

Kapasitas tersebut diharapkan mempercepat pengerahan armada udara ketika kebakaran terjadi dalam skala besar. Helikopter dapat bergerak mendekati lokasi titik api dari kapal sebelum melakukan operasi pemadaman.

“Jadi kalau punya 10 heli segera merapat ke titik api terbanyak, ini akan sangat membantu respons kita,” kata Prabowo.

Kapal induk helikopter tersebut diproyeksikan tidak hanya untuk menangani kebakaran hutan. Pemerintah juga menyiapkannya sebagai sarana mobilisasi cepat ketika terjadi bencana yang membutuhkan dukungan udara dan logistik.

Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem penanganan bencana yang lebih cepat dan terintegrasi.

BACA JUGA:  Tanggapi Isu Matahari Kembar, Dasco Saat Bersama Cak Imin di Acara Halal Bihalal: Ini Bulan!

Selain kapal, pemerintah juga menyiapkan pesawat untuk mendukung operasi modifikasi cuaca. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan mengkaji zat yang dinilai paling efisien untuk mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca.

“Kita nanti juga alokasikan pesawat untuk modifikasi cuaca, kemudian BRIN mengkaji zat apa paling efisien untuk paling cepat modifikasi cuaca,” ujar Prabowo.

Prabowo juga mendorong pengembangan drone berukuran besar yang mampu membawa dan menjatuhkan air.

Menurut dia, perangkat tersebut dapat ditempatkan di wilayah terdepan sehingga mampu memberikan respons awal ketika terjadi kebakaran sebelum bantuan dengan skala lebih besar tiba.

“Dan selanjutnya kita harus mengadakan drone yang bisa melempar air, ada drone besar sampai bisa angkut dan lempar air. Kalau ada di tempat terdepan lebih baik,” kata Prabowo.

Dengan tiga kemampuan tersebut, yakni kapal induk helikopter, pesawat untuk modifikasi cuaca, dan drone pembawa air, pemerintah ingin memperkuat respons bencana agar kemampuan penanganan dapat berada lebih dekat dengan lokasi kejadian.

Kapal hibah Italia tersebut sendiri masih dalam perjalanan menuju Indonesia dan belum mulai digunakan untuk operasi penanganan bencana. ***