INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Peran orang tua bukan hanya mencari prestasi, tetapi membantu anak menemukan minatnya dan berkembang sesuai kemampuan.
Cara tersebut tercermin dari pengalaman keluarga Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, Hamzah dan Evi Rahmawati dalam mendampingi putra-putrinya, Alesha Shakilla Hamzah dan Rakha Faiz Hamzah, yang berkembang melalui bidang berbeda.
Alesha menekuni seni tari hingga meraih Juara 2 tingkat nasional dalam lomba tari daerah Nusantara antarsekolah. Sementara Rakha mengembangkan kemampuannya di bidang olahraga golf dan pernah membawa nama Depok melalui ajang Menpora International Junior Golf Championship 2022.
Bagi keluarga, capaian tersebut bukan hanya soal kemenangan dalam kompetisi, tetapi hasil dari proses belajar, latihan, dan keberanian anak mencoba sesuatu yang mereka sukai.
“Yang paling penting bagi kami bukan hanya hasil akhirnya. Ketika anak berani mencoba, mau berlatih, menikmati apa yang dikerjakan, dan terus belajar dari pengalaman, itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga,” ujar Hamzah, Sabtu (12/9/2026).
1. Berikan Ruang Anak untuk Mengeksplorasi Minat
Menurut Hamzah, setiap anak memiliki kemampuan dan ketertarikan yang berbeda. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak langsung menentukan arah masa depan anak berdasarkan keinginan pribadi.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah memperhatikan aktivitas yang membuat anak bersemangat, nyaman belajar, dan memiliki keinginan untuk terus mengembangkan diri.
Anak perlu diberikan kesempatan mencoba berbagai bidang, mulai dari seni, olahraga, musik, membaca, sains, teknologi, hingga kegiatan lainnya.
Dari proses tersebut, orang tua dapat melihat bidang yang paling sesuai dengan karakter dan minat anak.
“Setiap anak punya kemampuan dan minat yang berbeda. Orang tua harus melihat apa yang mereka sukai, kemudian memberikan kesempatan untuk berkembang. Jangan sampai anak justru dipaksa mengikuti keinginan orang tuanya,” katanya.
2. Bedakan Mendukung dengan Menekan Anak
Salah satu hal penting dalam mendampingi perkembangan anak adalah memahami batas antara dukungan dan tekanan.
Ketika minat anak mulai terlihat, orang tua dapat membantu menyediakan fasilitas, pelatih, guru, komunitas, atau lingkungan belajar yang mendukung.
Namun, dukungan tersebut tidak seharusnya berubah menjadi tuntutan agar anak selalu menang atau mencapai target tertentu.
“Jangan hanya melihat hasil akhirnya. Kita harus melihat prosesnya. Ketika anak mau berlatih, tekun, berani mencoba, dan terus memperbaiki diri, itu juga sebuah prestasi,” ujar Hamzah.
3. Ajarkan Anak Menghadapi Kegagalan
Kegagalan merupakan bagian dari proses perkembangan anak. Orang tua perlu membantu anak memahami bahwa hasil yang kurang sesuai harapan bukan berarti mereka tidak mampu.
Menurut Hamzah, anak perlu diberikan ruang untuk belajar dari kesalahan, memperbaiki diri, dan mencoba kembali.
“Kalau anak mengalami kegagalan, jangan langsung membuat mereka merasa tidak mampu. Justru dari situ anak belajar bahwa untuk menjadi lebih baik, ada proses yang harus dijalani,” tuturnya.
Dengan pendampingan yang tepat, kegagalan dapat menjadi pengalaman yang membangun mental dan kepercayaan diri anak.
4. Jangan Bandingkan Anak dengan Orang Lain
Setiap anak memiliki waktu perkembangan yang berbeda. Karena itu, pencapaian anak lain tidak seharusnya menjadi ukuran utama keberhasilan.
Menurut Hamzah, orang tua lebih baik melihat perkembangan anak berdasarkan perubahan kemampuan dirinya sendiri.
“Setiap anak punya waktunya sendiri. Jangan menjadikan pencapaian anak lain sebagai ukuran utama. Lebih baik kita melihat apakah hari ini anak sudah berkembang dibandingkan dirinya kemarin,” kata Sekretaris DPC Gerindra Depok ini.
Apresiasi dapat diberikan terhadap proses yang dijalani anak, seperti kedisiplinan, keberanian mencoba, dan kemauan untuk belajar.
5. Bangun Karakter Bersamaan dengan Prestasi
Prestasi bukan satu-satunya tujuan dalam mendampingi anak. Orang tua juga perlu memastikan anak tumbuh dengan karakter yang kuat.
Kebebasan memilih bidang yang diminati perlu berjalan bersama tanggung jawab, seperti disiplin latihan, mengatur waktu, dan memahami konsekuensi dari pilihan yang dibuat.
Jika diperlukan, orang tua juga dapat berdiskusi dengan guru, pelatih, atau tenaga profesional agar dapat melihat potensi anak secara lebih objektif.
Pada akhirnya, bakat anak perlu diasah tanpa menghilangkan kebahagiaan dalam prosesnya.
“Bakat itu harus diasah, tetapi kebahagiaan dan karakter anak tetap yang utama. Kita ingin anak punya prestasi, tetapi juga punya kepercayaan diri, disiplin, tanggung jawab, dan menikmati apa yang mereka lakukan,” pungkas Hamzah.

Tinggalkan Balasan