KULONPROGO — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membawa peningkatan produksi bagi usaha tempe rumahan milik Khoiri Rosyidin dan istrinya, Sisika, di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sejak menjadi pemasok tiga dapur MBG, kapasitas produksi usaha tersebut meningkat dari sekitar 40 kilogram menjadi 150 kilogram kedelai dalam sekali produksi.

Peningkatan itu terjadi setelah usaha yang telah dijalankan sejak 2009 tersebut mendapatkan tambahan permintaan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Dulu paling produksi 40 kilogram sekali bikin untuk dijual ke pasar dan warung,” kata Khoiri, Senin (12/10/2026).

Sebelum terlibat dalam program MBG, Khoiri dan Sisika mengandalkan penjualan tempe ke pasar tradisional dan warung sekitar dengan harga Rp5.000 hingga Rp6.000 per potong.

Menurut data BGN, sebelum menjadi pemasok MBG, Khoiri dan Sisika mengolah sekitar 240 kilogram kedelai setiap minggu untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Setelah memperoleh pesanan dari dapur MBG, volume pengiriman mereka meningkat. Dalam satu kali pengiriman, jumlah kedelai yang diolah untuk menghasilkan tempe dapat mencapai 150 kilogram.

Pengiriman tersebut dilakukan hingga tiga kali dalam sepekan untuk memenuhi kebutuhan tiga dapur MBG yang menjadi mitra usaha mereka.

Kerja sama itu bermula ketika Sisika mendapatkan informasi dari seorang teman mengenai kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasok bahan pangan ke dapur SPPG.

Khoiri dan Sisika kemudian mengajukan sampel produk kepada pengelola dapur dan melakukan penyesuaian kualitas berdasarkan masukan yang diberikan.

Pada 14 April 2025, tempe produksi mereka mulai diterima sebagai salah satu pasokan bahan pangan untuk program MBG.

Meningkatnya kebutuhan tempe dari dapur MBG juga berdampak pada kegiatan produksi sehari-hari.

BACA JUGA:  Mie Porang Dietmeal Viral! Produk Lokal Ini Jadi Andalan Pejuang Diet

Khoiri dan Sisika yang sebelumnya menjalankan usaha bersama mulai melibatkan warga sekitar untuk membantu memenuhi pesanan.

“Kadang tidak sanggup kalau dikerjakan berdua saja,” ujar Sisika.

Meski jumlah produksi meningkat, Khoiri tetap mempertahankan proses pengolahan tempe yang selama ini digunakan.

Ia masih menggunakan kayu bakar untuk merebus kedelai dan air dari sumber mata air untuk mencuci bahan baku.

Sementara itu, penggunaan ragi dan tingkat kepadatan tempe disesuaikan dengan masukan dari pengelola dapur MBG.

Khoiri menyebut menjaga konsistensi kualitas produk menjadi tantangan ketika jumlah pesanan bertambah.

Bagi usaha tempe yang telah berjalan selama 17 tahun tersebut, kerja sama dengan tiga dapur MBG kini menjadi sumber tambahan permintaan di luar penjualan ke pasar dan warung. ***