INDORAYATODAY.COM, DEPOK – Wali Kota Depok Supian Suri menyatakan kotanya berhasil keluar dari kelompok 10 kota paling intoleran setelah mengalami peningkatan 17 peringkat dalam survei Setara Institute.

Pernyataan tersebut disampaikan Supian saat menghadiri perayaan ulang tahun ke-27 HKBP Limo, Ressort Cinere, Minggu (25/10/2026).

Menurut Supian, perubahan posisi tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai elemen masyarakat, terutama tokoh lintas agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Supian mengungkapkan, dua tahun sebelumnya Depok masih berada dalam kelompok 10 kota dengan tingkat toleransi terendah.

Namun, kondisi itu disebut mulai berubah setelah hasil survei Setara Institute menunjukkan adanya peningkatan posisi Depok.

“Sebagai rasa syukur juga saya informasikan bahwa dua tahun yang lalu Kota Depok masih masuk dalam 10 besar kota masuk kategori paling intoleran,” kata Supian.

Ia menyampaikan bahwa hasil survei tahun sebelumnya menunjukkan kenaikan peringkat yang cukup signifikan.

“Tahun kemarin hasil survei dari Setara Institute, kita dengan dukungan para tokoh semuanya, dengan latar belakang berbagai agama, dukungan dari FKUB, kita sudah naik 17 rankingnya ke atas,” ujarnya.

Supian menegaskan bahwa perubahan tersebut menjadi alasan bagi masyarakat Depok untuk terus mempertahankan kerukunan.

“Jadi tidak lagi (Depok_red) menjadi kota yang intoleran,” tegasnya.

Supian menilai keberhasilan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, bukan hanya pemerintah daerah.

Ia secara khusus mengapresiasi FKUB yang turut menjembatani proses perizinan Gereja HKBP Limo.

Menurut dia, dukungan tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama lintas agama dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang saling menghormati.

Supian juga mengingatkan bahwa Depok memiliki lebih dari dua juta penduduk dengan latar belakang suku dan keyakinan yang beragam.

BACA JUGA:  Lampu Jalan Padam di Sukamaju Depok, Bahaya Mengintai Pengendara

Keberagaman itu, menurut dia, harus menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan, bukan memunculkan perselisihan.

Ia mengibaratkan kehidupan masyarakat seperti keluarga besar yang membutuhkan sikap saling memahami agar tetap harmonis.

Supian berharap perubahan posisi Depok dalam survei toleransi dapat menjadi dorongan untuk terus memperkuat hubungan antarumat beragama.

Ia menekankan pentingnya mewariskan semangat kebersamaan kepada generasi berikutnya melalui peran keluarga, tokoh masyarakat, dan lembaga keagamaan.

Menurut dia, keberadaan gereja juga menjadi bagian dari upaya membentuk generasi penerus yang mampu menjaga kehidupan bersama.

Supian menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam membangun kerukunan di Depok.

Ia berharap semangat toleransi terus tumbuh seiring meningkatnya rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap kotanya.