INDORAYATODAY.COM  – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan fakta krusial di balik bencana banjir yang kerap melanda kawasan Jabodetabek. Menurutnya, jumlah situ atau danau yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air (reservoir) alami telah menyusut drastis, dari semula sekitar 1.000 danau kini hanya tersisa 200 saja.

Data tersebut menyoroti hilangnya sekitar 80 persen daerah resapan air di wilayah penyangga ibu kota. Prasetyo menegaskan, fenomena ini menjadi faktor dominan penyebab banjir saat curah hujan tinggi, selain masalah tata ruang dan pendangkalan aliran sungai.

“Menurut data terakhir, hari ini hanya tinggal tersisa kurang lebih 200 situ. Padahal dulunya Jabodetabek memiliki kurang lebih 1.000 telaga yang menjadi daerah tangkapan air,” ujar Prasetyo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Menyikapi kondisi tersebut, Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan jajaran kementerian terkait untuk segera menyusun grand design (rencana induk) penanganan banjir, khususnya di Pulau Jawa. Proyek ini akan melibatkan kerja sama lintas sektoral guna mencari solusi permanen dari hulu hingga ke hilir.

Prasetyo menjelaskan bahwa Presiden menghendaki tim yang terdiri dari Bappenas, Kemenko Infrastruktur, Kementerian PU, ATR/BPN, hingga Kementerian Kehutanan dan Pertanian untuk bergerak cepat.

“Karena ini persoalan lintas provinsi, Presiden meminta tim menganalisa agar masalah ini dapat diselesaikan secara menyeluruh. Kita harus melihat bagaimana perubahan tata ruang dan pendangkalan sungai berpengaruh besar terhadap luapan air,” tambahnya.

Sementara itu, curah hujan tinggi yang mengguyur ibu kota dalam beberapa hari terakhir mulai melumpuhkan sejumlah wilayah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaporkan sebanyak 45 RT dan 22 ruas jalan tergenang air dengan ketinggian bervariasi pada Kamis sore.

BACA JUGA:  Rusdy Nurdiansyah Disebut Layak Pimpin PWI Pusat, Dinilai Visioner dan Punya Jaringan Kuat

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, merinci titik genangan terparah berada di Jakarta Barat dan Jakarta Selatan. Di Jakarta Barat, wilayah seperti Kedaung Kali Angke dan Rawa Buaya masih menjadi titik rawan, sementara di Jakarta Selatan, Kelurahan Petogogan mencatat jumlah RT terdampak terbanyak.

Pemerintah pusat kini menitikberatkan pada percepatan koordinasi teknis agar rencana induk penanganan banjir tidak hanya menjadi dokumen kajian, melainkan aksi nyata untuk mengembalikan fungsi ekosistem air di kawasan Jabodetabek demi kenyamanan dan keselamatan warga.