INDORAYATODAY.COM  – Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto berkomitmen memperkuat posisi Batam sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan visi Presiden untuk menjadikan Batam sebagai gerbang utama ekonomi, tidak hanya di level Asia Tenggara, tetapi juga dunia.

“Kita ingin membangun ekonomi Batam agar terus menjadi salah satu laboratorium ekonomi, yang menjadi pintu gerbang di tingkat kawasan hingga global,” ujar AHY saat menghadiri perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Batam, Kepulauan Riau, Senin (16/2/2026).

Menurut AHY, Batam memiliki nilai strategis yang harus terus dikawal. Ia berharap sektor bisnis, industri, hingga pariwisata di wilayah tersebut dapat berkembang pesat sesuai dengan semangat awal pembentukannya.

Salah satu keunggulan kompetitif Batam yang disoroti adalah statusnya sebagai Kawasan Perdagangan Bebas atau Free Trade Zone (FTZ). Kebijakan ini dinilai krusial dalam menarik arus investasi asing yang berdampak langsung pada ketahanan ekonomi nasional.

Namun, AHY menekankan bahwa daya saing Batam tidak boleh hanya bersandar pada letak geografis. Penguatan struktur industri melalui hilirisasi menjadi harga mati dalam kebijakan ekonomi saat ini.

“Industrinya harus terus kita perkuat. Hilirisasi menjadi bagian penting; kita tidak boleh hanya mengekspor sumber daya alam mentah. Harus ada nilai tambah di sana,” tegas AHY, yang dalam kesempatan tersebut didampingi Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara.

Senada dengan hal tersebut, Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi, Sona Maesana, mengungkapkan bahwa Indonesia kini menempati peringkat ke-14 dunia dan ke-2 di Asia Tenggara sebagai tujuan utama Foreign Direct Investment (FDI). Batam menjadi kontributor signifikan dalam capaian tersebut.

Data menunjukkan, sepanjang periode 2020 hingga semester I 2025, Batam mencatatkan pertumbuhan investasi rata-rata mendekati 9 persen per tahun. Menariknya, Singapura masih menjadi investor terbesar di Batam dengan porsi mencapai 58,42 persen.

BACA JUGA:  Presiden Prabowo Bakal Pidato May Day 2026 dan Resmikan Museum Marsinah di Nganjuk

Batam kini juga dipersiapkan sebagai pusat manufaktur dan data digital nasional. Hal ini diperkuat dengan keberadaan empat Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dari total 25 KEK yang ada di seluruh Indonesia.

“Batam memiliki posisi kuat sebagai pusat akselerasi industri masa depan. Kami mengundang para investor untuk melihat Batam bukan sekadar lokasi strategis, melainkan ekosistem yang siap dengan insentif dan infrastruktur logistik yang mumpuni,” pungkas Sona.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029, di mana optimalisasi Batam dan strategi hilirisasi nasional akan menjadi kunci utama dalam mencapai target ambisius tersebut.